Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 17:58 WIB

Begini Modus Pabrik Solar dan Oli Palsu

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Kamis, 15 Februari 2018 | 18:16 WIB

Berita Terkait

Begini Modus Pabrik Solar dan Oli Palsu
(Foto: inilahcom/ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri berhasil mengungkap pabrik pembuat Solar dan Oli Palsu dengan modus mengolah Solar dan Oli bekas untuk dijual kembali.

"Pengungkapan ini pada Kamis 1 Februari 2018 sekitar pukul 11.00 WIB karena adanya laporan masyarakat," kata Wadirtipideksus Kombes Pol Daniel Tahi Monang Silitonga di Bareskrim Polri, Gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (15/2/2018).

Polisi telah menetapkan Suheri (44) sebagai Direktur Utama PT. Tialit Anugerah Energi. Pelaku membeli bahan baku dari daerah Lampung berupa minyak mentah (solar kotor) atau disebut minyak Lampung, minyak kotor (limbah kapal) dan oli bekas bengkel dan Industri.

Setelah di tempat penampungan PT. Tialit Anugerah Energi, kemudian di campur dengan bahan kimia active bleaching merek Tianyu dengan perbandingan untuk satu ton satu sak Tianyu atau bahan kimia cair.

"Selanjutnya diendapkan dalam tangki storage selama empat jam supaya kotoran padatnya terpisah," ujarnya.

Daniel mengatakan rata-rata konsumen yang menggunakan solar dan oli bekas ini adalah pabrik dan para nelayan. Tersangka pun menjual hasil olahan solar dan oli bekas ini dengan harga jauh di bawah harga pada aslinya.

"Penjualan bahan bakar minyak tersebut dipasarkan kepada perusahaan industri, nelayan-nelayan dan galian pasir di sekitar Jakarta dan Jawa Barat," kata dia.

Dalam seminggu, tersangka dapat memproduksi solar sekitar 100 ribu liter. Jika diakumulasi sebulan tersangka bisa memproduksi sekitar 400 ribu liter solar. Keuntungan yang didapat mencapai Rp500 juta per bulan.

"Keuntungan yang didapat 1000-1500 rupiah per liter sehingga keuntungan diperkirakan adalah Rp500 juta per bulan," ucapnya.

Daniel menambahkan produksi pengolahan BBM jenis solar yang dilakukan tersangka sudah dilakukan sejak tahun 2017 dan sempat berhenti pada bulan oktober 2017.

"Kemudian melakukan kegiatan kembali pada bulan Desember 2017 sampai dengan sekarang. Untuk mengelabui, pabrik ini mengaku bergerak di bidang transportasi dan ekspedisi. Tapi belum ada surat perizinannya juga," katanya.

Dalam produksi, tersangka mempekerjakan sebanyak 20 karyawan yang terdiri dari satu orang staf administrasi, dua petugas keamanan, tiga bagian produksi, serta sopir dan kenek.

"Ada 20 karyawan yakni satu orang staf administrasi, dua petugas keamanan, tiga bagian produksi, serta sopir dan kenek. Semuanya masih berstatus saksi dan akan kita lakukan pengembangan," ucapnya.

Sejumlah barang bukti diamankan diantaranya 29 ribu liter minyak mentah sebagai bahan baku solar, 13.500 liter minyak solar hasil pengolahan, dua unit dompleng, dua unit alkon, satu unit mesin sedot, 40 sak bubuk blacing Thianyu, 20 jeriken cairan bleaching, tiga unit truk tangki dan satu lembar surat jalan atau delivery note.

Tersangka dijerat dengan Pasal 53 dan pasal 54 undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan Pasal 62 ayat 1 Jo Pasal 8 ayat 1 UU RI No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman penjara enam tahun penjara atau denda sebesar Rp60 miliar.[jat]

Komentar

x