Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 05:44 WIB

Tantangan Pers di Era Demokrasi 'Hoax'

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 9 Februari 2018 | 21:07 WIB

Berita Terkait

Tantangan Pers di Era Demokrasi 'Hoax'
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018 ini memiliki makna penting bagi insan pers di Indonesia. Momentum peringatan HPN yang bertepatan dengan tahun politik, menjadi alarm bagi pers untuk tetap tegak menjadi ruang penyuara suara publik.

Bipolarisasi politik saat Pemilu 2014 lalu menjadi catatan penting bagi pers dalam menyikapi kontestasi politik yang menghasilkan dua kekuatan politik yang saling berhadap-hadapan. Dua blok politik pada akhirnya juga memberi dampak terhadap posisi pers dalam politik pemberitaannya.

Di saat bersamaan, persoalan berita bohong (hoax) menjadi alat politik untuk saling menjatuhkan lawan politiknya. Sayangnya, tidak jarang juga, dipercaya publik sebagai informasi yang benar. Belum lagi media alternatif seperti media sosial, yang menyediakan informasi yang berlimpah ruah dengan tanpa melalui proses kerja jurnalistik yang ketat.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan tantangan pers saat ini terletak pada tersedianya media alternatif yakni media sosial. Inovasi media massa, kata Bambang merupakan hal yang tidak bisa dihindari bagi pers.

"Tantangannya jauh lebih berat dan pelik karena wartawan harus bekerja lebih cepat untuk menyajikan informasi yang benar dan akurat. Kebenaran dan akurasi menjadi harga mati agar informasi yang disajikan wartawan tidak menjadi hoax," sebut Bambang kepada wartawan, Jumat (9/2/2018).

Di bagian lain Bamsoet yang merupakan mantan wartawan itu menyebutkan fenomena berita bohong harus direspons oleh kalangan pers sebagai tantangan. Menurut dia, wartawan dapat melakukan perlawanan terhadap berita-berita bohong tersebut. "Peran wartawan pada dasarnya bisa mereduksi hoax," tandas Bambang.

Sementara terpisah anggota Komisi I DPR RI Arwani Thomafi berharap pers dapat secara kukuh menjadi pilar keempat demokrasi. Menurut dia, momentum memasuki tahun politik saat ini, pers dituntut semakin profesional dalam bekerja.

"Dalam momentum tahun politik ini, diharapkan pers menjadi medium pendidikan politik yang efektif bagi publik. Mengabarkan informasi yang akurat sehingga proses politik melalui pilkada akan melahirkan pemimpin daerah yang sesuai dengan harapan publik," harap Arwani.

Senada dengan Bambang, tantangan berita bohong dan keberadaan netizen di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi pers era saat ini. Menurut dia, satu-satunya cara untuk tetap menjadi sumber informasi publik, pers harus bekerja secara profesional. "Memegang secara ketat aturan main di jurnalistik akan semakin mengukuhkan pers sebagai sumber informasi yang dinanti oleh publik," tegas Arwani.

Di bagian lain, Arwani juga menyikapi sejumlah persoalan yang menimpa profesi jurnalis seperti kekerasan, pemutusan hubungan kerja serta pemenuhan hak-hak dasar pekerja media. "Mendorong perusahaan media untuk memperhatikan kesejahteraan jurnalis sesuai dengan aturan yang berlaku serta pemenuhan hak-hak dasar seperti kesehatan, tempat tinggal serta jaminan hari tua," seru Ketua Fraksi PPP MPR RI ini.

Komentar

Embed Widget
x