Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Oktober 2018 | 13:29 WIB

Cerita Walkot Bogor yang Pernah Jadi Pemred

Oleh : Ajat M Fajar | Jumat, 9 Februari 2018 | 19:55 WIB

Berita Terkait

Cerita Walkot Bogor yang Pernah Jadi Pemred
Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Bogor - Momen Hari Pers Nasional (HPN) 2018 Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengajak insan pers untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah sesuai fungsi media sebagai alat kontrol pemerintah.

"Saya mengucapkan selamat hari pers kepada semua insan pers, tidak mungkin kita menikmati demokrasi seperti ini tanpa kebebasan pers," ungkap Bima Arya di Balaikota Bogor, Jumat (9/2/2018).

Ia menambahkan, bahwa demokrasi tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pers. Sebagai pilar demokrasi yang keempat, pers turut berperan besar dalam pengawasan pembangunan pemerintahan.

"Yang paling utama, saya berterimakasih atas kebebasan pers yang ada saat ini sehingga saya bisa menerima kritikan. Pers merupakan pilar utama dalam pengawasan pembangunan pemerintahan. Bagi saya kritik itu adalah vitamin. Terimakasih kepada pers yang telah mengartikulasikan aspirasi, harapan atau kritik dari warga kepada saya. Menyampaikan dan memberitakan hal-hal yang masih kurang maksimal dalam program-program pemerintahan," jelas Bima Arya.

Sejauh ini, lanjut Bima, ia banyak menerima banyak informasi dan masukan justru dari para awak media. "Utamanya melalui grup Whatsapp. Saya pantau grup WA, semuanya ada ratusan. Saya pantau kritikan-kritikan yang ada disitu. Justru grup WA yang paling kritislah yang lebih saya lihat. Dibanding grup WA yg menyanjung dan memuji-muji," terangnya.

Bima Arya juga mengaku selama ini banyak pengalamanan menarik dengan teman-teman media. "Seru ya. Rasanya nano-nano dengan wartawan. Asem, manis, macem-macem rasanya. Rame kalau dengan wartawan. Ada masa menyenangkan, menggembirakan, menjengkelkan. Biasalah itu. Semua itu suka duka," katanya.

Terkait dengan dunia pers, Bima rupanya pernah berkecimpung menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Rakyat Merdeka periode 2009-2010.

"Ya, saya pernah menjadi Pemred Majalah Rakyat Merdeka selama satu tahun. Jadi merasakan menjadi kuli tinta itu tidak mudah. Stres kalau deadline, stres kalau tulisan belum kelar, stres kalau narsum tidak mau bicara saat dikonfirmasi. Kalau saya bukan hanya cari bahan tapi mengelola redaksi dan perusahaan juga sebagai Pemred ketika itu. Saya pahamlah suka duka dunia media. Terimakasih kepada teman-teman media atas kritiknya yang membangun. Kritik adalah vitamin buat saya," pungkasnya.[jat]

Komentar

Embed Widget
x