Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 07:23 WIB

Sosok Fahmi Habsyi Rupanya Hanya Narsum di Bakamla

Oleh : Ivan Setyadi | Kamis, 1 Februari 2018 | 22:46 WIB

Berita Terkait

Sosok Fahmi Habsyi Rupanya Hanya Narsum di Bakamla
Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Status Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi akhirnya terkuak. Orang yang semula disebut punya peran penting di kasus Bakamla nyatanya tak lebih dari sekedar narasumber.

Adalah Kepala Bakamla (Kabakamla) Laksamana Madya Arie Soedewo yang menjelaskan posisi Fahmi Habsyi di lembaga yang dipimpinnya.

"(Status Ali Fahmi) Narasumber. Dia saya gunakan, baru dapat honor, kalau tidak, koordinasi sesuai pengalaman seperti saya sampaikan di sidang dahulu," jelas Arie saat dihadirkan sidang lanjutan perkara suap proyek satellite monitoring Bakamla dengan terdakwa Nofel Hasan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/1/2018) kemarin.

Jaksa juga menanyakan kepada Arie Soedewo tentang adanya upaya membuka tanda bintang pada anggaran drone.

Dengan membenarkan, Arie menjelaskan maksudnya terhadap anggaran drone yang suratnya ditujukan kepada Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan.

"Jadi begini, saya pernah perintahkan saudara Nofel untuk membuat surat upaya pembukaan, tapi dengan keraguan. Satu, waktunya kurang dari sebulan, kalau tidak beraksi, permintaan saya main-main atas dasar itu buat mudah-mudahan tidak diblokir," jawab Arie.

Jaksa KPK dalam dakwaan Nofel telah menyebut usulan anggaran pengadaan satellite monitoring dan drone yang disahkan APBN-P Tahun Anggaran 2016 sebesar Rp402 miliar dan drone sebesar Rp580 miliar.

Namun Kemenkeu memangkas anggaran proyek satellite monitoring dengan nilai Rp222 miliar.

Sementara untuk pengadaan drone belum dapat ditandatangani kontraknya karena anggaran pengadaan drone masih dibintangi atau di-blocking.

Lalu, Hardy Stefanus (mantan pegawai PT Melati Technofo Indonesia/MTI) ingin usulan pembukaan blocking anggaran tanpa perlu dilakukan review dari BPKP, tetapi langsung diajukan ke Ditjen Anggaran Kemenkeu.

Terkait itu, Nofel didakwa menerima SGD 104.500. Uang itu diterima Nofel dari Fahmi Darmawansyah (mantan Direktur PT MTI sebagai pemenang tender) melalui dua anak buahnya yaitu M Adami Okta dan Hardy Stefanus.

Suap diberikan agar Nofel dapat membantu membuka blocking anggaran pengadaan drone.

Dalam sidang itu, anggota DPR yang juga Ketua DPD I Golkar DKI Fayakhun Andriadi sebagai saksi mengaku dikenalkan dengan Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi oleh rekannya sesama Komisi I DPR dari Fraksi PDI-P, TB Hasanuddin.

Ali dikenalkan sebagai kader PDI-P oleh TB Hasanuddin usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Bakamla.

"Saya kenal Ali Fahmi setelah dikenalkan oleh Tubagus Hasanuddin, teman saya dan senior sesama Komisi I DPR. Setelah RDP di kantor Bakamla, dikenalkan," tutur Fayakhun.

Setelah berkenalan, lanjut Fayakhun, Ali Fahmi lantas meminta nomor telepon selulernya.

"Saat dikenalkan Pak TB Hasanuddin dia (Ali Fahmi) perkenalkan diri kader PDIP juga. Kemudian saya tidak tahu istilahnya tenaga ahli di Bakamla. Kemudian dia minta nomor telepon saya," beber Fayakhun.[jat]

Komentar

Embed Widget
x