Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 04:47 WIB

Menghitung Peluang Wiranto Selamatkan Hanura

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 19 Januari 2018 | 20:45 WIB

Berita Terkait

Menghitung Peluang Wiranto Selamatkan Hanura
Figur utama Partai Hanura, Jenderal (Purn) Wiranto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kondisi internal Partai Hanura di ambang perpecahan. Kubu Oesman Sapta Odang telah mendapat SK Kementerian Hukum dan HAM terkait perubahan kepengurusan, sedangkan kubu Daryatmo tengah mengurus SK Kepengurusan baru pasca Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Hanura. Bagaimana peluang Wiranto selamatkan Hanura?

Figur utama Partai Hanura, Jenderal (Purn) Wiranto satu-satunya tokoh yang dianggap mampu menyelamatkan Partai Hanura. Modal sosial serta posisi politik yang dimiliki Wiranto menjadi dasar keyakinan itu tumbuh.

Keyakinan itu pula yang muncul dari kader Partai Hanura yang berada di pihak DPP Partai Hanura kubu Daryatmo. Seperti penuturan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura Dadang Rusdiana, pihaknya yakin bila Wiranto mampu menyelesaikan persoalan yang kini dihadapi Partai Hanura.

"Saya yakin Wiranto bisa menyelesaikannya. Nanti Pak Wiranto mengatakannya kembali ke zero point, kembali ke titik zero," kata Dadang di sela-sela pertemuan DPP Partai Hanura kubu Daryatmo dengan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto di Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Keyakinan sejumlah kader dan aktivis Partai Hanura muncul dari kubu Daryatmo yang baru saja menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Apalagi, kubu ini telah melakukan pertemuan dengan Wiranto yang sebelumnya, saat momentum Munaslub, Wiranto juga hadir melalui surat yang dibacakan Ketua DPP Partai Hanura Dossy Iskandar.

Pertanyaannya, apakah keyakinan itu cukup menjadi modal untuk menyelesaikan kemelut di internal Hanura? Karena bila dilihat anatomi konflik di internal Hanura, secara simplistis-dikotomis, terjadi antara kader lama dengan kader pendatang baru yang direpresentasikan OSO. Lebih spesifik lagi, konflik muncul imbas model kepemimpinan OSO yang banyak disebut kubu Daryatmo kerap melakukan "maladminitrasi".

Jika melihat sejumlah pernyataan OSO ke publik merespons konflik yang terjadi, tentu membantah berbagai tudingan kubu Daryatmo. Meski, tak lama mencuat konflik di internal Hanura, OSO sempat berseloroh akan mengembalikan kursi Ketua Umum DPP Hanura ke pemilik asal tak lain Wiranto. "Kalau Wiranto mau menjadi ketua umum kembali, silakan saja, saya kasih," kata OSO di gedung DPR/MPR, kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (16/1/2018).

Meski belakangan, OSO justru melakukan langkah politik yang agresif. Selain melakukan pemecatan ke sejumlah pengurus DPP Partai Hanura seperti Sekjen Hanura Sarifuddin Suding, kubu ini juga melakukan pendaftaran kepengurusan baru versi hasil perombakan. Kubu OSO pun mengklaim telah mengantongi SK perubahan kepengurusan baru dari Kementerian Hukum dan HAM. Di sisi lain, kubu Daryatmo pada Jumat (19/1/2018) ini mendaftarkan kepengurusan hasil Munaslub yang digelar pada Kamis (18/1/2018) di Kementerian Hukum dan HAM.

Jika melihat situasi yang terkini di antara dua kubu, ada upaya yang menjurus pada posisi the winner take all alias yang menang akan menghabisi yang kalah. Situasi ini tentu akan menyulitkan semangat damai yang digulirkan Wiranto. Jalan damai yang mendorong jalan tengah tentu pilihan ideal.

Bila pun skenario damai ditempuh oleh kedua belah pihak, bagaimana penyelesaian dugaan pelanggaran yang dilakukan OSO dalam pengelolaan partai? Apakah menggunakan instrumen Mahkamah Partai untuk memveriifkasi tudingan tersebut? Bila dugaan maladministrasi yang dilakukan OSO melalui Mahkamah Partai, bukankah itu mekanisme mempermalukan OSO di internal partai?

Wiranto dan pengurus di jajaran Dewan Pembina Partai Hanura tentu harus melakukan kalkukasi politik yang matang. Menempatkan OSO di posisi Ketua Umum di sisi lain dengan tidak melakukan klarifikasi atas tudingan yang muncul dari kader, hanyalah menyimpan bara dalam sekam saja. Namun di sisi lain, jika mengganti OSO di tengah jalan juga bukan tanpa risiko. Dalam kenyataannya, OSO memiliki gerbong yang didominasi anggota DPD RI.

Menyandingkan kembali duet OSO-Suding dalam kepemimpinan Hanura juga bukanlah rumusan yang moderat untuk menyatukan dua kekuatan. Kendati ini perkara politik yang meniscayakan berbagai kemungkinan bakal terjadi, namun sejumlah tudingan yang dialamatkan kepada OSO oleh kubu Daryatmo mesti diklarifikasi, untuk memastikan pengelolaan partai berjalan baik. [*]

Komentar

Embed Widget
x