Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 23:46 WIB

Bela Khofifah, Kredibilitas Mahfud Dipertaruhkan

Kamis, 5 September 2013 | 03:09 WIB
Bela Khofifah, Kredibilitas Mahfud Dipertaruhkan
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD - inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Surabaya - Kredibilitas nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD terancam turun.

Ini jika Mahfud masih bersikeras menjadi salah satu tim advokasi pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja yang akan menggugat hasil pemilukada Jatim ke MK nanti.

"Nama besar Mahfud akan hancur di mata masyarakat, bila dalam gugatan nanti teryata dikalahkan atau ditolak MK. Apalagi, peluang untuk menang di MK sangat tipis," kata pakar Hukum Tata Negara Universitas Surabaya (Ubaya) Prof Dr Eko Sugitario di Surabaya, Rabu (4/9/2013).

Sebagaimana diketahui, pasangan Khofifah-Herman memasukkan Mahfud MD dalam salah satu anggota tim advokasi Berkah bersama Otto Hasibuan.

Sebagai mantan Ketua MK, Mahfud MD hendaknya menolak tawaran tersebut. Tidak etis mantan Ketua MK yang pernah menyidangkan gugatan Khofifah-Mudjiono pada pilgub 2008, namun kini menjadi salah satu tim advokasinya dengan gugatan yang sama.

Menurut Eko, memang tidak ada larangan, tapi sesuatu yang dilarang bukan berarti diperbolehkan. Apalagi, nanti Mahfud akan menghadapi majelis hakim yang pernah menjadi anggotanya di MK.

"Secara psikologi ada pengaruhnya. Bisa jadi, mereka yang sekarang duduk menjadi majelis hakim Mahkamah Konstitusi tidak mudah diintervensi, apalagi ditakut-takuti dengan nama besar Mahfud," ujarnya.

"Harus dihitung secara cermat jangan sampai hanya karena gugatan Pilkada, namun akan menurunkan kredibilitas dan nama besar Mahfud. Apalagi, nanti bila gugatan tersebut kalah," imbuhnya.

Bila dihitung secara matematis, gugatan hasil pemilukada Jatim sulit bisa dikabulkan oleh MK. Selain dispartitas perolehan suara cukup besar, tidak ada celah atau pelanggaran yang memungkinkan untuk dilakukan pemilihan ulang.

Dalam hitung cepat selisih perolehan suara di atas 10 persen. Itu bukan angka yang kecil dalam hitungan survei. "Kami memang masih menunggu hasil manual, tapi rasanya tidak ada selisih yang signifikan dengan hitung cepat," tuturnya.

Bila benar benar kalah di MK, maka nama Mahfud yang masuk dalam tim advokasi sangat dirugikan. "Langkah terbaik Mahfud harus menolaknya sebelum terjadi," pungkasnya.[beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x