Find and Follow Us

Minggu, 26 Januari 2020 | 16:46 WIB

Tangkap Suap Kelas Teri, KPK Langgar UU

Oleh : Marlen Sitompul | Sabtu, 27 Juli 2013 | 02:11 WIB
Tangkap Suap Kelas Teri, KPK Langgar UU
Anggota Komisi III DPR, Aboe Bakar Al Habsy - (foto:inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan anak buah pengacara Hotma Sitompoel, Mario Carmelio Bernardo dan staf Pendidikan dan Pelatihan Mahkamah Agung (MA), Djodi Supratman sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan tersangka karena diduga melakukan suap senilai Rp 80 juta.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi III DPR, Aboe Bakar Al Habsy mengatakan bahwa institusi tindak kejahatan korupsi itu hanya berani menindak kasus korupsi kelar teri.

"Seharusnya mereka (KPK) lahap adalah kasus BLBI, Bank Century ataupun Hambalang," kata Aboe Bakar, kepada wartawan, Jakarta, Jumat (26/7/2013).

Menurutnya, kinerja KPK masih jauh dari harapan sebagaimana yang diamanatkan dalam pasal 11 Undang-undang tentang KPK mengatur dalam melaksanakan tugas KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp 5 miliar.

"Biarlah kasus-kasus teri seperti ini ditangani oleh penyidik Polsek atau Polres, akan lebih baik bila KPK fokus pada mega skandal yang mempengaruhi makro ekonomi, karena disinilah kelas KPK sebenarnya," tegas politkus PKS itu.

Diketahui, Pasal 11 UU KPK berbunyi;

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi yang:

a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;
b. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Selanjutnya kasus korupsi di bawah Rp 5 miliar akan ditangani Kepolisian dan Kejaksaan.

Mario ditangkap di kantor Hotma Sitompoel di Jalan Martapura, Jakarta Pusat, pukul 13.20 WIB. Adapun Djodi ditangkap di daerah Monas, Jakarta Pusat, ketika sedang menumpang ojek, pukul 12.15 WIB. KPK menyita uang Rp80 juta dari operasi penangkapan tersebut.

Diduga uang itu diberikan kepada Djodi terkait penanganan sebuah perkara yang sedang ditangani di Mahkamah Agung. Juru bicara KPK Johan Budi, belum bersedia mengungkap lebih detail perkara yang akan 'diamankan' Mario tersebut. [mes]

Komentar

x