Find and Follow Us

Kamis, 12 Desember 2019 | 00:10 WIB

Istana Urus Partai, Citra Negara akan Bahaya

Oleh : Marlen Sitompul | Jumat, 19 April 2013 | 04:06 WIB
Istana Urus Partai, Citra Negara akan Bahaya
(Foto : inilah.com)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Selain tempat Presiden berkantor, Istana Negara juga dikenal sebagai simbol pemerintahan Indonesia. Selain itu, Istana Negara juga sebagai tempat Presiden Indonesia menerima para tamu negara-negara sahabat yang berkunjung ke tanah air.

Untuk itu, Istana Negara semestinya dapat dijaga dari berbagai kepentingan partai politik (parpol). Jika tidak, maka akan menjadi preseden buruk bagi citra pemerintahan Indonesia.

"Kalau dibiarkan Istana jadi tempat urusan partai, maka ini akan bahaya terhadap citra negara kita. Ini akan menjadi preseden buruk bagi pemerintahan kita," kata Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat, Asep Warlan Yusuf, kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (19/4/2013).

Hal itu mengkritisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang melakukan jumpa pers mengenai Partai Demokrat di Istana Negara, Rabu (17/4/2013) malam. SBY jumpa pers menanggapi Yenny Wahid yang batal bergabung bersama Partai Demokrat.

Lanjut Asep, sikap SBY yang menggunakan fasilitas negara guna kepentingan politik Partai Demokrat tidak bisa dibenarkan. Sebab, hal itu menunjukkan bahwa SBY yang juga sebagai Ketua Umum Partai Demokrat tidak bisa menempatkan diri sebagai kepala negara.

"Sungguh SBY ini tidak bisa meyakinkan publik, penggunaan forum Istana menjadi forum partai," tegas Asep.

Oleh sebab itu, kata Asep, Presiden seharusnya tidak bisa rangkap jabatan di parpol. Sebab, secara otomatis hal itu akan mengganggu kinerjanya dipemerintahan.

"Dari dulu saya sudah mengatakan itu, pejabat publik itu harus melepas jabatan partai. Karena bagaimana pun juga ketika dia diangkat sudah menjadi milik publik," jelasnya. [mes]

Komentar

x