Find and Follow Us

Sabtu, 14 Desember 2019 | 04:31 WIB

Istana Negara Citra Rasa Demokrat

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 18 April 2013 | 19:43 WIB
Istana Negara Citra Rasa Demokrat
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - (Foto: inilah.com/Ardhy Fernando)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Selama delapan tahun menjadi Presiden RI, SBY menjaga betul untuk tidak memberi pernyataan maupun aktivitas yang berbau politik praktis. Namun, sejak didaulat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, kebiasaan etik itu dilanggar. Kini, Istana Negara bercitra rasa Parrai Demokrat.

Standard etik yang selama ini dipegang teguh SBY, akhirnya bobol juga. Ikhtiar SBY untuk tidak menjadikan Istana Negara untuk aktivitas politik, akhirnya dilanggar juga. Rabu (17/4/2014) malam, SBY menggelar jumpa pers di Istana Negara terkait dengan gagalnya Yenny Wahid bergabung ke Partai Demokrat.

Tentu, SBY berbicara tentang Yeny Wahid yang gagal masuk menjadi fungsionaris Partai Demokrat dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Jabatan politik yang telah ia pegang sejak 30 Maret 2013 lalu melalui Kongres Luar Biasa (KLB). SBY meneruskan jabatan Anas Urbaningrum yang berhenti dari Ketua Umum Partai Demokrat pada 23 Februari 2013.

Langkah SBY ini pun menuai polemik di tengah publik. Langkah SBY yang menjadikan Istana Negara untuk kepentingan partai mendapat kritik tajam dari publik.

Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung menyayangkan langkah SBY yang menjadikan Istana Negara untuk kepentingan partai politik. Ia menilai pernyataan SBY terkait erat dengan Partai Demokrat. "Seyogyanya dibicarakan di luar Istana. Kalau ini dibiarkan bisa meurunkan citra dan marwah Istana itu sendiri," ujar Pramono di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (18/4/2013).

Pramono mengatakan, jika terkait dengan urusan partai politik, sebaiknya presiden menggunakan kantor DPP Partai Demokrat atau tempat lain. Urusan partai politik, kata Pramono tidak tepat dibicarakan di Istana Negara. "Tidak terkait dengan negara," cetus Pramono.

Namun, bantahan datang dari Partai Demokrat. Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Nurhayati Assegaf menampik bila SBY menggunakan jam kerja untuk kepentigan Partai Demokrat. "SBY kan malam, bukan di saat jam kerja. Kenapa bicara di Istana, karena beliau memang tinggal di Istana," ujar Nurhayati di gedung DPR, Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis (18/4/2013).

Nurhayati yang disebut-sebut bakal mengisi posisi Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini mengatakan komitmen SBY tidak berubah untuk sepenuhnya mengurus negara. Hanya saja, Nurhayati menyebutkan posisi SBY yang saat ini menjadi Ketua Umum Partai Demokrat maka waktu yang dipilih untuk konferensi pers pada malam hari. "Jadi sama sekali tidak menyingkirkam kepentingan rakyat," tegas Nurhayati.

Sejak terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat SBY mendapat kritik publik. Kekhawatiran publik terkait dengan rangkap jabatan antara sebagai presiden dengan ketua umum mendekati kebenaran dengan konferensi pers SBY yang berbicara soal Yenny Wahid.

Tentu, masalah yang tidak terkait dengan kenegaraan dan pemerintahan. Maka kini jangan terkejut bila Istana Negara bercitra rasa partai politik. Karena Ketua Umum Partai Demokrat tinggal dan bekerja di sana. [mdr]

Komentar

x