Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 05:26 WIB

Bali Perlu Figur Alternatif Pimpin Bali ke Depan

Oleh : Dewa Putu Sumerta | Minggu, 20 Januari 2013 | 21:30 WIB
Bali Perlu Figur Alternatif Pimpin Bali ke Depan
Ilustrasi
facebook twitter

INILAH.COM, Denpasar - Di usungnya dua tokoh yang itu-itu saja oleh partai politik dalam pilgub Bali pada 15 Mei 2013, dinilai kurang mendidik dan menggairahkan.

Melihat realita itu, Koalisi Masyarakat untuk Pilgub Bali (KMPB) menyodorkan 20 nama cagub dan cawagub alternatif dalam pemilihan Pemimpin Bali ke depan.

"Kita merasa gelisah dan risau dengan proses Pilgub Bali saat ini, seakan-akan Bali ini krisis kader. Sejak awal hanya dua tokoh yang diusung partai (Pastika dan Puspayoga) itu yang mengemuka," ujar Ketua Koalisi Masyarakat untuk Pilgub Bali, Putu Wirata Dwikora, Minggu (20/1/2013).

Selain kegelisahan dan kerisauan seolah-olah krisis kader, secara faktual Bali juga dihadapi dengan sejumlah masalah yang mesti segera dipecahkan oleh pemimpin ke depan.

"Secara faktual Bali ditimbun oleh banyak masalah seperti otsus (otonomi khusus) yang telah diperjuangkan selama 8 tahun tetapi buntu, RTRW, moratorium pembangunan dan lainnya," jelas Dwikora.

Dewan Pembina Koalisi Masyarakat untuk Pilgub Bali, Prof Made Bakta menambahkan, apa yang dilakukan koalisi ini sebagai bentuk kontrubisi terhadap Bali ke depan. "Kita tidak puas dengan proses pilkada Bali yang sedang berjalan. Ini tidak bagus bagi pendidikan politik di Bali. Kita ingin agar proses pilgub Bali didorong agar lebih baik. 20 figur alternatif ini kita munculkan, kita lempar ke masyarakat dan parpol. Apakah ujungnya nanti akan diundang parpol, itu terserah nanti. Ini perlu strategi dan konsep yang matang, kita harap koalisi ini tetap kompak," tuturnya.

Menurut Bakta, dimunculkan 20 figur cagub dan cawagub Bali alternatif lebih untuk menjaga Bali ke depannya.

"Bagaimana kelanjutannya ke depan, nanti tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa saja figur alternatif ini masuk ke salah satu calon yang saat ini, tapi sebelumnya harus ada kontrak politik, misalnya bersedia komitmen menjaga RTRW Bali, anti anti korupsi, dan lain sebagainya. Jadi apakah akan masuk ke Pastika atau Puspayoga, kita lihat saja nanti," paparnya.

Sementara itu, Pinisepuh Sandhi Murti, Gusti Ngurah Harta menyatakan koalisi ini merupakan sebuah kepedulian terhadap Bali ke depan. Dengan munculnya koalisi ini, diharapkan Bali akan mendapat seorang pemimpin yang lebih baik.

"Waktu saya sedang ada di Lombok, saya ditanya, masak sih di Bali hanya 2 orang saja yang mampu jadi pemimpin, masak hanya Pastika dan Puspayoga saja. Sekarang tinggal siapa yang berani tampil untuk menjadi pemimpin Bali, kenapa tidak ada yang berani tampil di luar parpol?," tegasnya.

Dimunculkannya 20 calon gubernur dan calon wakil gubernur alternatif ini di gagas oleh Prof, Dr Made Bakta (Rektor Unud), Gusti Ngurah Harta (Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti), Cokorda Atmaja (Rektor Universitas Ngurah Rai), Prof. Suryani (Guru Besar Unud), Made Arjaya (Ketua Komisi I DPDR Bali), serta beberapa tokoh Bali lainnya dari lintas elemen seperti akademisi, LSM, ormas, dan seniman.

Seperti diketahui, dalam Pilgub Bali 15 Mei mendatang, PDIP akan mengusung kadernya sendiri yakni Anak Agung Ngurah Puapayoga yang kini menjabat Wakil Gubernur Bali. Sementara Koalisi Bali Bersatu yang dimotori Partai Golkar, Partai Demokrat dan tujuh partai politik lainnya sepakat mengusung Made Mangku Pastika yang sebelumnya diusung PDIP untuk menjadi gubernur untuk kedua kalinya. [gus]

Komentar

x