Find and Follow Us

Selasa, 21 Januari 2020 | 09:39 WIB

Ternyata, Studi Banding DPR ke Jerman Salah Alamat

Oleh : TJS | Senin, 26 November 2012 | 02:28 WIB
Ternyata, Studi Banding DPR ke Jerman Salah Alamat
inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Kunjungan Anggota Badan Legislatif (Baleg) DPR ke Jerman 17-23 November 2012 untuk mempelajari Rancangan Undang-Undang (RUU) Keinsinyuran ternyata salah alamat. Sebab, lembaga yang dikunjungi ternyata tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan RUU itu.

Berdasarkan pantau Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Berlin yang mengikuti jalannya pertemuan itu, terlihat bahwa para anggota DPR mengunjungi Deutsches Institut fur Normung (DIN), atau lembaga standardisasi Jerman pada 19 November 2012.

PPI merekam aktivitas DPR selama berada di DIN dan mengunggahnya di situs YouTube. DIN adalah lembaga yang menangani standardisasi produk, bukan profesi keinsinyuran yang ingin diketahui anggota DPR. DIN tidak mengatur profesi/individu dari insinyur itu sendiri, melainkan menstandarkan produk dan proses dari berbagai bidang keteknikan di Jerman.

Pertemuan yang hanya berlangsung sekitar 2 jam itupun mendiskusikan informasi umum DIN saja. Misalnya, sejarah terbentuknya DIN di Jerman dan Eropa, prosedur kerja dan hubungannya dengan kebijakan pemerintah Jerman, terutama di bidang sains dan teknologi.

Karena tidak ada hubungannya, dialog antara anggota Baleg dengan perwakilan DIN menjadi terkesan percuma. Misalnya, ketika anggota DPR bertanya apakah ada hukuman yang didasari oleh legislasi kepada pihak tertentu untuk proyek yang gagal di bidang keteknikan (misalanya, di bidang konstruksi, K3).

Pertanyaan itu dijawab perwakilan DIN dengan mengatakan bukan kapasitas DIN untuk menjawab pertanyaan itu. Sebab, banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan suatu proyek. Selain itu dalam kerangka kebijakan sanksi untuk kegagalan proyek bukanlah sesuatu yang bisa didesain dengan absolut.

Lucunya, dalam tayangan video itu terlihat bahwa dialog tidak berlangsung cair. Sebab, dialog itu menggunakan perantara, yakni penerjemah. Padahal, pihak DIN berbicara menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Jerman.

Lagi pula penerjemah itu ditunjuk dadakan begitu saja. Tidak direncakan terlebih dulu, seperti apa dialog akan berlangsung dan siapa yang menjadi penerjemah.

Kontan saja, penonton tayangan di YouTube melontarkan caci maki. Mereka heran, bagaimana mungkin anggota-anggota DPR itu tidak bisa memahami bahasa Inggris.

Usai pertemuan mereka langsung meluncur ke restoran Timur Tengah di Berlin, lalu ke KBRI dan kembali ke hotel. Satu hari di Berlin, para anggota DPR hanya menggunakan waktu efektif 2 jam mendengarkan presentasi di kantor DIN. Sepekan pelesiran anggota DPR di Jerman itu menghabiskan Rp2,3 miliar. [tjs]

Komentar

x