Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 15:25 WIB

Terpelanting dari Shiratal Mustaqim

Kamis, 13 September 2012 | 00:15 WIB
Terpelanting dari Shiratal Mustaqim
Istimewa
facebook twitter

INILAH.COM,Jakarta - Kehidupan di alam barzakh bukanlah akhir kehidupan manusia. Kita akan dihisab, dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatan kita di dunia, di padang makhsar.

Amal manusia akan ditimbang di atas neraca keadilan, yang disebut "Mizan".

Setelah itu, manusia harus melintasi jembatan lurus yang terbentang di antara dua punggung neraka Jahannam. Jembatan itulah yang disebut Shirath. Shirat adalah "jembatan" yang di atasnya terdapat besi-besi panas yang saling berkaitan dan menyambari siapa saja yang menyeberanginya.

Barang siapa yang berhasil melintasinya, ia akan sampai di surga. Siapa saja yang terpelanting darinya, maka ia akan jatuh ke dalam neraka. Hanya ada satu jalan menuju surga, yakni shirathal mustaqim tersebut.


Kala diri harus melintasi shirath inilah yang diangkat sebagai refleksi jiwa dalam buku ini. Sungguh, Saudara-saudara, melintasi shirath merupakan keniscayaan yang tak dapat dihindari di hari akhir nanti.

Sungguh! Perjalanan melintasi shirath merupakan masa paling mendebarkan, mencekam, dan menakutkan. Jika kita beriman dan bertaqwa kepada-Nya, tidak perlu takut melintasinya. Sebab Allah telah menyediakan syafaat-Nya untuk menolong kita.

Namun bagi Anda yang sedikit amal baiknya di dunia, sangat lebur dalam dosa-dosa, maka bersiap-siaplah untuk terpelanting, tercabik-cabik, terpangang, dan terbakar gelegar api neraka!

Komentar

Embed Widget
x