Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 06:10 WIB

Terbuka Harapan Tuti Bebas Hukuman Pancung

Oleh : Sumitro | Selasa, 7 Agustus 2012 | 00:02 WIB
Terbuka Harapan Tuti Bebas Hukuman Pancung
Ilustrasi
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Juru bicara Satgas TKI, Humphrey Djemat, menyatakan ada kabar baik bagi Tuti Tursilawati, seorang TKI yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi.

TKI yang sebelumnya divonis bersalah dan harus menjalani hukum pancung, kini menjalani persidangan kembali dengan dibukanya kembali kasus tersebut.

"Kejadian sidang ulang tersebut adalah suatu hal yang langka, jarang terjadi. Ini karena ada upaya keras dari Pemerintah Indonesia, termasuk Satgas TKI, Perwakilan RI di Arab Saudi, termasuk Surat Khusus Presiden SBY tertanggal 6 Oktober 2011," ungkap Djemat dalam keterangan tertulis kepada INILAH.COM, Senin (6/8/2012).

Surat yang dilayangkan Presiden SBY berisi permintaan bantuan kepada Raja untuk menunda eksekusi terhadap TKI sekaligus meminta Raja agar Tuti Tursilawati mendapatkan Permohonan Maaf. Sejak adanya suratnya tersebut, eksekusi terhadap Tuti akhirnya ditunda, padahal pihak keluarga korban kerap mendesak agar Tuti segera dieksekusi.

Djemat mengungkapkan, hakim menanyakan motif pembunuhan yang dilakukan dan dijawab oleh Tuti karena dilecehkan secara seksual oleh korban, Suud Mulhaq Al-Qtaibi.

Tuti juga menjelaskan bahwa tongkat yang dipakai untuk memukul korban sudah ada di tempat kejadian sebelumnya. Sarung tangan dipakai TKI Tuti bukan untuk menghilangkan jejak namun karena udara pada saat itu sangat dingin. Adapun pakaian laki-laki yang ada di tempat tersebut bukan untuk menyamarkan dirinya, namun pakaian tersebut hendak dicucinya.

Berdasarkan keterangan TKI Tuti, lanjut Djemat, Majelis Hakim meminta kepada Wakil Keluarga Korban bernama Munif Suud Al Qtaibi agar memberikan pemaafan terhadap TKI Tuti. Hakim bernasehat bahwa di mata Allah memberikan maaf adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala yang besar dibandingkan menghukum seseorang.

Majelis Hakim sendiri memutuskan Tuti tetap dinyatakan bersalah, tetapi bukan kategori pembunuhan kejam yang tidak dapat dimaafkan tetapi masih dapat diberikan maaf. Atas dasar putusan ini, terbuka peluang untuk TKI Tuti mendapatkan pemaafan dari pihak keluarga korban. "Saat ini kami sedang melakukan upaya pendekatan," terang Djemat.

Selama menjalani proses hukum, Tuti mendapatkan pendampingan dari pengacara tetap Indonesia di Arab Saudi, Kantor Khuddran Zahrani, yang telah bekerja sama baik dengan pihak Perwakilan Indonesia. [gus]

Komentar

Embed Widget
x