Find and Follow Us

Senin, 20 Januari 2020 | 10:16 WIB

Industri Rokok Dinilai Bidik Perokok Anak-Anak

Oleh : Dewa Putu Sumerta | Sabtu, 26 Mei 2012 | 23:03 WIB
Industri Rokok Dinilai Bidik Perokok Anak-Anak
inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, Denpasar - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) menilai industri rokok kini sudah mulai mengincar perokok dikalangan anak-anak.

Jika sebelumnya pasarannya untuk dewasa ke atas, kini dinilai mulai merambah pasar anak-anak khususnya pelajar lewat beragam model iklan karena hal itu jauh lebih efektf.

"Kalau perokok dewasa itu bukan sasaran mereka lagi, sebab biasanya mereka sangat fanatik terhadap merek rokok tertentu, jadi sekarang yang dibidik ya kalangan anak muda," ungkap Ketua Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait, usai mengikuti seminar nasional Kawasan Tanpa Rokok Solusi Perlindungan Bahaya Asap Rokok di Kampus Universitas Udayana, Sabtu (26/5/2012).

Menurutnya, semakin kuatnya upaya kampanye anti rokok termasuk penerapan kawasan tanpa rokok (KTR), semakin kuat pula upaya industri rokok memasarkan produknya dengan beragam cara.

Maka tak heran jika kemudian, banyak iklan rokok yang tampil memikat sesuai jiwa anak muda dan masuk ke semua lini kehidupan mulai pendidikan, gaya hidup sosial dan sebagainya.

Aris menambahkan, industri rokok semakin berambisi mendekati pasar anak-anak, seolah menjadi sahabat dan gaya hidup modern padahal itu semua semata untuk kepentingan bisnis dengan mempertaruhkan masa depan anak-anak.

Kondisi tersebut sangat menyedihkan, mengingat anak-anak mestinya dibebaskan dari pengaruh paparan asap rokok yang mengandung nikotin atau zat berbahaya bagi kesehatan.

Dengan kondisi seperti itu, Aris tidak heran seorang anak usia empat tahun sudah mengenal rokok dan masih banyak kasus lainnya lagi dimana anak usia muda terjerumus pada rokok yang diantaranya merupakan korban iklan rokok. Padahal, banyak penelitian menyebutkan produk rokok dibuat berasal dari berbagai bahan berbahaya seperti dari aspal, cat, pewarna pakaian dan zat berbahaya lainnya.

Aris menduga industri rokok, ingin masyarakat lupa atas penyakit dan
penderitaan yang disebabkan karena rokok. "Kami menilai pemerintah telah gagal mengendalikan tembakau sehingga tidak bisa melindungi anak-anak dari paparan asap rokok," tegasnya

Badan kesehatan dunia atau WHO memperkirakan pada tahun 2020, penyakit yang berkaitan dengan tembakau menjadi masalah kesehatan utama didunia yang menyebabkan sedikitnya 8,4 juta warga setiap tahunnya di dunia tewas akibat rokok. Dari 8,4 juta warga di dunia yang tewas akibat rokok ini, separonya terjadi di Asia. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke- 3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India.

Data lainnya menunjukkan pada tahun 2002 konsumsi rokok di Indonesia mencapai 182 milyar batang sehingga total perokok aktif di Indonesia sebesar 70 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai 141,44 juta orang. [gus]

Komentar

x