Sabtu, 23 Agustus 2014 | 00:40 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tragedi Polisi Periksa Polisi Berulang
Headline
Foto: Agus Susanto/Kompas & Facebook Milana
Oleh: Ahluwalia
nasional - Senin, 15 November 2010 | 05:53 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Efek kasus Gayus Tambunan ke Bali, polisi akhirnya kembali memeriksa polisi. Itulah tragedi berulang di negeri ini.

Setelah diperiksa penyidik polisi secara marathon sejak Kamis (11/11), Kepala Rumah Tahanan Bareskrim Cabang Mako Brimob Kompol Iwan Siswanto mengalami stres. "Dia pusing, tapi gak sampai pingsan. Terkulai dibangku saja," ujar Burhan Bangun kuasa hukum Iwan kepada wartawan, Sabtu (13/11).

Iwan Siswanto adalah perwira polisi, yang diperiksa penyidik polisi. Sama seperti Susno Duadji, Suyitno Landung dan seterusnya. Sungguh sebuah tragedi, polisi jadi pelaku kriminal yang harus disidik polisi.

Seperti diberitakan, Gayus kembali berulah, dia diduga menyuap 9 oknum polisi penjaga rumah tahanan Bareskrim Cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, agar dapat leluasa keluar dari rumah tahanannya.

Tidak tanggung-tanggung, Gayus menyuap aparat itu hingga senilai total Rp368 juta. Salah satu yang disuap adalah Kepala Rumah Tahanan Bareskrim Cabang Mako Brimob Kompol Iwan Siswanto. Meskipun gaji anggota polisi dinaikkan dua kali lipat, namun tidak jadi jaminan akan mampu menahan godaan suap dari koruptor.

Alasan Kepala Rutan Bareskrim Cabang Mako Brimob (nonaktif) Kompol Iwan Siswanto menerima suap Gayus H Tambunan karena membutuhkan biaya berobat untuk istrinya, bukanlah penyebab utama.

Kasus itu mencerminkan masalah mental, budaya dan kesempatan. Tidak ada jaminan kesejahteraan meningkat lalu polisi tidak akan menerima suap atau korupsi.

Seyogianya, agar anggota polisi jera dan tidak tergoda terhadap godaan suap dari koruptor maka harus ada sanksi berat kepada yang terbukti melakukan pelanggaran. Kalau mau bersih dari korupsi, harus ada sanksi tegas, termasuk kepada petinggi Polisi sebagai contoh panutan di bawahnya. Bisakah?

Kasus suap yang mengiringi kasus Gayus ini adalah tragedi polisi, tatkala para aparat penegak hukum itu kini jadi tersangka dan selanjutnya terdakwa. Sungguh ironi, dan tragedi. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
M.Dahlan Abubakar
Senin, 15 November 2010 | 14:31 WIB
Mengapa polisi mudah disuap? Jawabnya, untuk menjadi polisi harus melalui penyuapan. Rumput yang bergoyang di SPN pun tahu kalau mereka yang lulus masuk mengikuti pendidikan polisi itu via gerbang bernama 'suap'. Jadi, dari awal ini harus diberantas. Mau????
banciman
Senin, 15 November 2010 | 06:33 WIB
pak polisi kalo mau hukum jalan beneran...ya itu yg menerima suap di hukum mati . tembak ditempat...jadi pasti aman...kalo banciman ya ga akan jalan lah...pengecut sih....beraninya ama pengusaha yg berduit yg gampang diperas. tuh polisi mau dinaikan gaji sampai 1 juta kali lipat juga percuma...alasan terus dianya....tembak di tempat aja pak.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER