Rabu, 23 April 2014 | 22:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tragedi G30S PKI Jangan Terulang!
Headline
ist
Oleh: Ahluwalia
nasional - Jumat, 1 Oktober 2010 | 20:41 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Rekonsiliasi anak-anak bangsa mewarnai hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober ini. Anak-anak dari tokoh-tokoh organisasi pemberontak di masa Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Pahlawan Revolusi berkumpul bersama.
Mereka melakukan rekonsiliasi, mengubur rasa dendam dan benci. Rekonsiliasi bertajuk Silaturahmi Nasional itu digelar di Gedung Nusantara III DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/10).
Penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa yang dikenal dengan gerakan G 30/S PKI itu diperingati setiap 1 Oktober. Kami mengalami trauma berkepanjangan, ujar Amelia Yani, putri Pahlawan Revolusi Jenderal Anumerta Achmad Yani.
Hadi pula Christin Panjaitan, anak Mayjen TNI Anumerta DI Panjaitan. Ada pula putra ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia (CC PKI) DN Aidit, Ilham Aidit, dan anak Wakil CC PKI Nyoto, Svetlana. Juga hadir Feri Omar Dhani Nursaparyan, anak mantan KSAU yang dicurigai terlibat G30/S PKI, Omar Dhani.
Juga tak ketinggalan anak dari tokoh pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) SM Kartosuwiryo, Sarjono, cucu tokoh DI/TII Aceh Daud Beureueh, Ahmad Zaidi dan putra bungsu mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto. Ketua MPR Taufiq Kiemas dan Ketua DPR Marzuki Alie juga ikut hadir dalam acara itu.
Amelia mengerti, rasa trauma itu tak cuma dimilikinya, putri yang ayahnya menjadi korban penculikan PKI. Beban berat juga dirasakan oleh anak-anak tokoh pemberontak itu.
Tapi bagaimana dengan Ilham Aidit? Rasa ngeri dikucilkan dan takut memakai nama orang tua sendiri. Lalu bagaimana dari putra Omar Dhani yang menyaksikan Panglima AU itu dipenjara 30 tahun.
Ia melihat adanya kesadaran diri masing-masing untuk berdamai. Karena memaafkan atau memberi maaf adalah sifat Allah SWT. Kami sadar dendam dan rasa benci sudah kami kubur dalam-dalam, tuturnya.
Christin masih mengingat peristiwa berdarah 45 tahun lalu. Malam itu dia melihat sang ayah Mayjen DI Pandjaitan diberondong peluru para penculik hingga tewas. Saya lihat dari jauh otak ayah saya keluar, ujar Christin.
Christin mengaku bayangan itu sulit hilang dari ingatannya. Dia pun mengaku tidak pernah mau menyaksikan Film G30S/PKI yang pernah diputar setiap tahunnya. Saya tidak pernah menonton film itu. Saya tidak mau mengulanginya lagi, ujarnya.
Christin sepakat rekonsiliasi antara anak-anak korban dan pelaku G30S/PKI harus dilakukan. Menurutnya setelah bertemu dengan anak-anak tokoh PKI seperti Ilham Aidit dan yang lainnya, dendam itu sudah lenyap.
Semua anak bangsa itu ingin, kalau orang tua melakukan kesalahan, jangan diturunkan pada anak cucunya, jangan pula ditiru orang lain. Cukup sudah tragedi lampau itu. Jangan terulang kembali, kenang Sarjono Kartosuwiryo. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER