Sabtu, 20 September 2014 | 02:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Eksekusi Usai, ke Mana Ali Imron?
Headline
Ali Imron - Ali Imron
Oleh: Iwan Ulhaq Panggu
nasional - Senin, 10 November 2008 | 05:59 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Pelaku utama peledakan bom Bali ada empat orang. Kenapa hanya tiga yang dihukum mati? Satu lagi yaitu Ali Imron dikenai hukuman penjara seumur hidup. Apa bedanya? Adakah konspirasi dengan penegak hukum?
Bom Bali terjadi pada malam hari 12 Oktober 2002 di Kuta, Bali, mengorbankan 202 orang dan mencederai 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Nama-nama pelaku utama peledakan bom Bali adalah: Abdul Goni, Abdul Hamid, Abdul Rauf, Abdul Aziz alias Imam Samudra, Achmad Roichan, Ali Ghufron alias Mukhlas, Ali Imron alias Alik, Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, Andi Hidayat, Andi Oktavia, Arnasan alias Jimi, Bambang Setiono, Budi Wibowo, Dulmatin, dan Utomo Pamungkas alias Mubarok.
Ali Imron alias Alik (33) adalah pelaku yang paling blak-blakan membuka peristiwa itu. Tentang peledakan di Jalan Raya Legian, Ali Imron menuturkan, dia mengemudikan mobil Mitsubishi L-300 yang berisi penuh bom, bersama Isa alias Feri dan Arnasan alias Jimi. Isa sendiri membawa bom yang dipasang di dalam rompinya.
Di pertigaan Jalan Legian, mobil dihentikan. Ali Imron turun dan digantikan Jimi. Isa dan Jimi menuju lokasi pengeboman yang telah ditentukan Imam Samudra, yakni Paddy's Cafe dan Sari Club. Isa akan meledakkan dirinya di Paddy's, sementara Jimi meledakkan mobil di Sari Club. Isa dan Jimi ikut tewas dalam peristiwa itu.
Ali Imron mengaku pernah turut berperang melawan Rusia di Afganistan selama lima tahun, dari 1991 sampai 1996. Mengenai perakitan bom di rumah kontrakan di Jalan Pulau Menjangan, Denpasar, Ali Imron mengaku ikut meracik dan merakit. Bom itu dirakit Dr Azahari dan Dulmatin.
Ali Imron mengatakan, pertemuan itu membahas rencana jihad peledakan bom di Bali termasuk pembagian tugas. Dul Matin (belum tertangkap) meracik dan merakit bom sedangkan Amrozi membeli mobil L-300 dan bahan potasium florat, belerang, dan bubuk aluminium.
Kesaksian itu dibantah Amrozi. Menurut Amrozi, pertemuan itu bukan membicarakan rencana pengeboman melainkan rencana meminta izin berunjuk rasa karena akan ada pertemuan 700 pemimpin Yahudi dan Nasrani di hotel Lor Inn, Surakarta.
Amrozi menjelaskan, pertemuan Sukoharjo atas undangan Zulkarnaen, Ketua Al Aman yang kegiatannya di bidang sosial. "Adik saya kebiasaan, dalam pertemuan atau sedang naik mobil, kerjanya ngantuk tok," kata Amrozi.
Kemana Ali Imron? Kisah hidup terpidana penjara seumur hidup untuk kasus Bom Bali, tertuang dalam memoar 275 halaman yang dicetak sebuah koran terbitan Jakarta.
Intinya, sang teroris ini ingin 'jualan kecap nomor satu' yang mengingatkan siapa pun yang ingin jihad untuk tidak salah pilih jalur. Fauzan dari Majelis Mujahidin Indonesia, mengatakan, keluarnya buku memoar ini menimbulkan pertanyaan.
Ya, bagaimana bisa seorang terpidana yang 'dipinjam' bertahun-tahun oleh Mabes Polri mampu membiayai pembuatan buku otobiografi yang terkesan luks dan mahal?
Menurut Fauzan, publik harus kritis menyikapi situasi ini, dengan mempertanyakan mengapa terpidana penjara seumur hidup yang terbukti bersalah sebagai pelaku kasus Bom Bali I, dibiarkan berkeliaran tanpa menjalani hukumannya?
Patut dipertanyakan juga, dari mana sumber pendanaan atau siapa 'jenderal' di Mabes Polri yang membiayai pembuatan buku memoar Ali Imron?
Tentang keberadaan pengebom Ali Imron dan Mubaroq yang dijaring Tim Anti-Teror Mabes Polri, tadinya, hampir terlupakan publik dan lepas dari pengamatan media. Kabar terakhir tentang Ali Imron menghangat ketika Brigjen Gories Mere ngopi bersamanya di Starbucks Cafe Plaza EX Jalan MH Thamrin, 1 September 2004.
September 2007, Ali Imron bersama Mubaroq, rekan sesama teroris dan terpidana kasus Bom Bali I, diundang buka puasa bersama di rumah Brigjen Surya Dharma di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tak kurang dari PM Australia (ketika itu) John Howard mengecam berkeliarannya kedua terpidana itu.
Dari situlah baru ketahuan Ali Imron dan Mubaroq memang tidak pernah berada dalam tahanan. Mantan Kapolri Jenderal Sutanto secara tegas menyatakan kepada pers baru-baru ini, kedua terpidana itu memang dibon Mabes Polri untuk membantu mengungkap jaringan teroris di Indonesia.
Kontroversi tentang kedua terpidana Bom Bali I ini masih berlanjut karena muncul kecaman keras dari semua pihak akibat adanya kabar hidup mereka tinggal di apartemen dan hotel mewah secara berpindah-pindah.
Terbitnya buku Ali Imron ini juga menimbulkan pertanyaan di Badan Intelijen Negara (BIN). Mengapa Kapolri Jenderal Pol. Sutanto saat itu membiarkan atau mengizinkan ada buku semacam ini terbit?
Buku yang kental dengan nuansa 'cuci tangan' atau 'lempar batu sembunyi tangan' ini patut dipertanyakan juga, mengapa dirilis menjelang pelaksanaan eksekusi mati ketiga terpidana mati bom Bali I (Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra). [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER