Sabtu, 1 November 2014 | 19:23 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Hentikan Bullying di Sekolah!
Headline
Tindakan penganiayaan, bullying, di kalangan anak-anak dan remaja kian meningkat saja, termasuk di sekolah. Tak sedikit yang memilih bunuh diri di tengah tekanan aniaya. - Istimewa
Oleh: Vina Ramitha
nasional - Minggu, 18 Mei 2008 | 20:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tindakan penganiayaan, bullying, di kalangan anak-anak dan remaja kian meningkat saja, termasuk di sekolah. Tak sedikit yang memilih bunuh diri di tengah tekanan aniaya. Trendnya bahkan sudah menembus wilayah pedesaan.
Bullying mungkin belum populer di Tanah Air. Padahal, fenomena ini telah lama jadi bagian roda kehidupan pendidikan, khususnya di sekolah.
Andrew Mellor dari antibullying network Universitas Edinburgh menyatakan bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain, baik secara verbal, fisik, maupun mental. Selanjutnya kejadian tersebut akan terjadi lagi dan si korban merasa tak berdaya mencegahnya.
Bullying merupakan masalah tersembunyi karena masih belum banyak disadari oleh para pendidik dan orangtua murid, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, menjelaskan dalam workshop nasional bertajuk Upaya Penangan Bullying; Ciptakan Sekolah Damai di Jakarta, Sabtu (17/5).
Setiap anak, begitu Meutia, harus mendapatkan perlindungan di sekolah dari segala macam tindakan bullying. Pasalnya, anak korban bullying terancam tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, menderita gangguan jiwa seperti depresi yang akhirnya bisa berujung pada bunuh diri. Mereka kemungkinan akan terlibat dalam tindakan kriminal ketika dewasa nantinya.
Adalah Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa) yang memprakarsai gerakan ini. Sejiwa adalah lembaga pendidikan yang berupaya membangkitkan nilai-nilai keluhuran agar tercermin dalam perilaku sehari-hari. Mereka mangajak masyarakat untuk menggali kembali nilai-nilai tersebut. Mereka juga mendorong peningkatan peran insan yang memiliki fungsi pendidikan.
Sejak 2006, mereka mengadakan workshop nasional terkait dengan fenomena bullying. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah ini di sekolah, Diena Haryana, Ketua Sejiwa.
Ia berharap workshop ini akan mendorong terciptanya sistem antibullying yang dapat menekan tindakan tersebut di sekolah. Selain itu, lanjutnya, banyak pihak ikut tersadar dan mau mengambil peran sebagai agen perubahan sehingga akan tercipta sekolah yang damai di Indonesia.
Berbagai kasus bullying sebetulnya dialami semua orang yang bersekolah di Tanah Air. Bukti yang paling jelas adalah perploncoan yang banyak membuat pesertanya stress. Bentuk lainnya adalah pergantian pengurus organisasi siswa maupun kegiatan ekstrakulikuler, dari senior ke junior. Contoh kasus yang paling ekstrem adalah penyiksaan fisik di IPDN yang sempat kontroversial beberapa saat lalu.
Di luar negeri, kampanye antibullying sudah dilakukan sejak tahun 1970-an, lanjut Diena. Artinya, Indonesia telah tertinggal jauh sementara berbagai bentuk kekerasan terus bermunculan. Menurut survei sebuah media massa, selama tahun 2000-2005 terdapat 30 kasus bunuh diri anak berusia 9-15 tahun sebagai akibat dari bullying.
Maka Diena pun mengimbau agar semua kalangan bergerak bersama dengan Sejiwa. Gayung bersambut, ajakannya pun mendapat respon positif dari beberapa kalangan. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dukungan dari General Electronics (GE), GE Volunteers, Exxon Mobile, Business Dynamics, Plan International, dan juga Hotel JW Marriott.
Bullying tidak hanya terjadi di kota besar saja, terang Ratna Juwita, psikolog UI yang juga menjadi pembicara dalam workshop tersebut. Bentuk bullying di kota kecil tidak seperti yang terjadi di kota besar, yaitu group bullying. Di sana, pelakunya biasanya anak pejabat setempat atau murid yang memiliki kekuasaan. Bullying memang selalu erat kaitannya dengan permainan kekuasaan sebab si pelaku seringkali menyalahgunakannya.
Ratna mengakui, banyak kendala memberantas bullying. Pasalnya, makin tinggi tingkatan sebuah institusi pendidikan, mereka yang terlibat bullying, baik korban maupun pelaku, makin menutup diri. Terutama dari kalangan guru. Mereka menyangkal ada tindakan bully dalam sekolah mereka, keluhnya.
Kini, setelah tiga tahun terlibat dalam kegiatan Sejiwa, Ratna bersyukur sudah banyak sekolah menyambut baik dan mulai membuka diri. Bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, semua pihak harus peduli dan bertanggung jawab untuk menekan tindakan ini. Hentikan bullying di sekolah! [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER