Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 18:04 WIB

Mutasi Perwira di Mabes Polri (I)

Polri Copot Gories Mere

Oleh : Mega Simarmata | Jumat, 2 Mei 2008 | 22:59 WIB

Berita Terkait

Polri Copot Gories Mere
Gories Mere - iPhA/Abdul Rauf

INILAH.COM, Jakarta Mutasi dalam institusi negara adalah hal biasa. Tak terkecuali di Markas Besar Kepolisian Indonesia. Maka kabar adanya Telegram Rahasia (TR) Kapolri tertanggal 1 Mei 2008 tentang mutasi 33 perwira di jajaran Polri bukan hal yang terlalu mengejutkan.Yang mengejutkan adalah munculnya nama Irjen Gories Mere di antara deretan perwira yang bakal dimutasi itu. Artinya Gories tersingkir dari divisi paling bergengsi di jajaran Kepolisian, yaitu Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri. Selama tiga tahun menjabat Wakil Kepala Bareskrim, Gories punya kewenangan yang sungguh besar, sehingga mampu menembus semua lini menggunakan otoritasnya, termasuk mengerahkan Pasukan Anti Teror. Sehingga dengan pencopotan ini, Gories seakan kehilangan semua kewenangan yang sangat besar itu. Bagi banyak kalangan, Gories dinilai sering tampil kontroversial. Maka terdepaknya Gories dari jabatannya sebagai Wakil Kepala Bareskrim demikian menarik disimak. Apalagi, lulusan Akpol 1976 ini sudah hampir sebulan terakhir ini ditugasi menjadi Wakil Sementara (WS) Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN).Banyak yang mengira jabatan Gories adalah Kalakhar BNN dengan pangkat Komisaris Jenderal. Sebab keberadaannya di BNN itu menggantikan Komjen Made Mangku Pastika, yang sejak 1 April 2008 cuti untuk mengikuti Pemilihan Gubernur Bali. Tentu saja itu perkiraan yang keliru. Penugasan Gories di BNN hanya temporer alias sementara. Berakhir sudah seluruh kewenangan dan peran Gories dalam urusan penanganan terorisme. Selama hampir tiga tahun ia menjabat sebagai Wakil Kepala Bareskrim, hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memimpin seluruh rangkaian penanganan terorisme. Terutama mengejar dan menangkapi teroris-teroris Jamaah Al Islamyah.Akankah ia terus menapaki kariernya sebagai Kalakhar BNN definitif? Banyak analis memperkirakan, dengan mutasi yang menerpa Gories, promosinya sebagai jenderal bintang tiga untuk menjadi Kalakhar BNN definitif pun akan mengghadapi jalan terjal dan berliku.Dia tetap harus mendapat restu Kapolri untuk diajukan secara tertulis dan resmi kepada Istana Kepresidenan. Penunjukan pejabat eselon I adalah kewenangan kepala negara, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk mendapatkan restu presiden, proses yang harus dilalui pun tak gampang. Nama calon akan dibahas dalam Rapat Tim Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Wakil Presiden M Jusuf Kalla.Tahapannya pun tak berhenti di situ. Nama yang lolos dari TPA pun masih harus mendapatkan rekomendasi dari Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebutkan 'tidak ada masalah apa pun menyangkut pejabat tersebut'. Barulah proses pembuatan Keputusan Presiden mengenai pengangkatan seseorang untuk menduduki jabatan di tingkatan eselon I akan segera dilakukan. Bagaimanapun, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari semua perjalanan tugas Gories. Selama ini, ketertutupan Gories dan seluruh tim yang dipimpinnya dalam menangani terorisme, sangat disesalkan oleh pihak Badan Intelijen Negara (BIN). Maka tergusurnya Gories, ke depan tim itu harus menjalin kerjasama dengan pihak eksternal di luar Polri, termasuk TNI dan BIN.Dalam beberapa kesempatan, kepada INILAH.COM, Kepala BIN Sjamsir Siregar mengkritik ketertutupan Gories dalam menangangi tugas-tugas di lapangan berkaitan masalah terorisme. Kesan yang ditimbulkan adalah tajamnya rivalitas antarinstitusi.Di sinilah semua pihak yang terkait dalam masalah keamanan di Indonesia ini harus sangat berbesar hati untuk membuka diri dan menjalin kerjasama yang harmonis dan bersinergi. Jalan terjal yang berliku sudah menanti di hadapan Gories untuk bisa menambah bintangnya dan menempati posisi Kalakhar BNN yang definitif.BIN pasti akan bersikap rasional dan profesional. Mustahil lembaga sebesar ini akan mencampur-adukkan kepentingan pribadi untuk masalah bangsa. Sjamsir dan jajarannya tentu tidak akan menghambat keluarnya surat rekomendasi untuk Gories, bila benar kelak ia diajukan untuk menempati posisi di level eselon I.Tetapi upaya untuk memastikan apakah calon pejabat eselon I itu pantas atau tidak mendapatkan surat rekomendasi itu tetap bertumpu pada ada-tidaknya permasalahan, kasus atau pelanggaran hukum yang pernah dilakukan. Ini jelas mencakup disiplin, etika, dan moralitas yang melekat pada calon pejabat eselon I. Lobi secanggih apa pun sulit dilakukan untuk memanipulasi rekomendasi dari jajaran BIN. [Bersambung/P1]

Komentar

x