Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 13:25 WIB

Pilkada 2018, PDIP Versus Gerindra

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 4 Januari 2018 | 19:05 WIB

Berita Terkait

Pilkada 2018, PDIP Versus Gerindra
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Pelaksanaan pemilihan kepala daerah pada 2018 ini tak ubahnya pertarungan politik laten antara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Padahal, saat Pemilu 2009, kedua partai ini bahu membahu mengusung capres dan cawapres yang sama. Bahkan, kedua partai ini menulis akad politik untuk Pemilu 2014 meski akad itu tak tertunaikan.

Pilkada 2018 akan digelar di 171 daerah seluruh Indonesia baik pilkada provinsi maupun kabupaten/kota. Namun, terdapat sejumlah daerah yang menyita perhatian publik, khususnya daerah-daerah yang memiliki jumlah penduduk yang tidak sedikit. Pilkada provinsi di Pulau Jawa menjadi ajang pertarungan gengsi antarpartai politik.

Menariknya, bila ditarik garis pembatas, dalam hiruk pikuk ini terdapat dua kekuatan politik yang cukup kuat dalam perebutan kursi kepala daerah khusus di Pulau Jawa dan di sejumlah provinsi yang memiliki penduduk gemuk seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Dua kekuatan tersebut tak lain adalah PDI Perjuangan dan Partai Gerindra yang menjadi lokomotif gerbong koalisi.

Dua partai ini secara demonstratif saling berkejaran menghadirkan kandidat yang layak dijual ke calon pemilih. Tengok saja seperti yang terjadi di Pilkada Jawa Barat. Polarisasi kekuatan dua partai tersebut tampak kuat terlihat. Partai Gerindra bersama partai koalisi setianya yakni PKS dan PAN, meski khusus PAN belakangan mulai menarik diri khususnya di Pilkada Jabar, sepakat mengusung pasangan Mayjend TNI (Purn) Sudrajat dan Akhmad Syaikhu.

Sedangkan PDI Perjuangan hingga saat ini masih belum memastikan siapa kandidat yang diusung dalam pilkada Jabar. Wacana menyandingkan Ridwan Kamil dengan Anton Charliyan sebagai representasi PDI Perjuangan, masih belum menjadi keputusan politik resmi.

Kondisi hampir serupa juga terjadi di Pilkada Jawa Tengah. Kendati hingga saat ini PDI Perjuangan belum memastikan Ganjar Pranowo maju kembali dalam Pilkada 2018 ini, namun Partai Gerindra sejak awal telah mengelus mantan Menteri ESDM Sudirman Said. Tak jauh beda dengan di Jabar, Gerindra menjalin kerjasama politik dengan PKS dan PAN mencalonkan Sudirman yang hingga saat ini masih belum mempunyai pasangan politik itu.

Berbeda di Jawa Timur, PDI Perjuangan termasuk partai politik yang sejak awal mengumumkan kandidatnya. Syaifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas kandidat yang diusung PDI Perjuangan bersama PKB. Sedangkan Gerindra dan poros politiknya yang semula ingin mencalonkan putri KH Abdurrahman Wahid Yenni Wahid urung dilakukan. Penyebabnya Yenni tidak mendapat restu dari kalangan kiai sepuh. Hingga saat ini komitmen Partai Gerindra dan poros politiknya mengajukan calon alternatif masih terus digodog.

Situasi yang tak jauh berbeda terjadi di Sumatera Utara. Partai Gerindra dan PKS secara resmi mengusung Edy Rahmayadi yang saat ini masih menjabat sebagai Pangkostrad TNI ini. Namun sebaliknya, PDI Perjuangan secara berani mencalonkan kader PDI Perjuangan yang gagal dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu yakni Djarot Saiful Hidayat untuk maju menjadi cagub Sumatera Utara.

Pertarungan dua poros politik ini tentu menghadirkan kompetisi yang sarat dengan gengsi. Daerah dengan penyumbang lumbung suara yang tidak kecil seperti di Pulau Jawa dan Sumatera Utara menjadi pemanasan politik menjelang Pemilu 2019 yang digelar secara serentak itu.

Bipolarisasi dua kekuatan politik ini, tidak terlepas dari polarisasi yang terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Langkah politik Partai Gerindra yang berani mencalonkan calon yang luar mainstream nyatanya telah berhasil mengalahkan kandidat petahana Ahok-Djarot.

Sentimen pilkada DKI Jakarta ini besar kemungkinan akan ditransfromasi ke sejumlah pilkada yang akan digelar di 2018 ini khususnya di daerah-daerah yang memilikiu lumbung suara yang besar. Selain soal gengsi politik, ini juga terkait dengan pemanasan jelang pertarungan yang nyata yakni di Pemilu 2019 mendatang.

Siapa yang menjuarai kontetasi politik bergengsi ini? Tentu tergantung calon yang diusung serta strategi memasarkan kandidat dan mencuri hati pemilih. Bila sentimen Pilkada DKI Jakarta dibawa dalam pilkada lainnya, besar kemungkinan sentimen tersebut cukup berhasil memberi dampak kemenangan. Meski, kita harus menunggu di hari-hari ke depan soal siapa kandidat yang resmi didaftarkan ke KPU. Yang pasti, pilkada 2018 merupakan ajang duel PDIP versus Gerindra.

Komentar

Embed Widget
x