Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Januari 2018 | 20:34 WIB
 

Menimbang Bamsoet, Aziz atau Agus untuk Ketua DPR

Oleh : RR Ferdian Andi R Ferdian Andi | Kamis, 28 Desember 2017 | 17:50 WIB
Menimbang Bamsoet, Aziz atau Agus untuk Ketua DPR
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Awal 2018 dipastikan akan ada Ketua DPR definitif menggantikan posisi Setya Novanto. Setidaknya ada tiga nama kader Partai Golkar yang dielus sebagai calon Ketua DPR yakni Bambang Soesatyo, Aziz Syamsudin dan Agus Gumiwang Kartasasmita. Apa untung rugi dari tiga sosok tersebut bagi Golkar dan DPR?

Posisi Ketua DPR lowong sejak Setya Novanto mengajukan pengunduran dirinya sebagai Ketua DPR. Kini, posisi itu untuk sementara diisi Fadli Zon sebagai pelaksana tugas (Plt) hingga Partai Golkar mengajukan pengganti Setya Novanto.

Pengganti Setya Novanto di posisi Ketua DPR tak ubahnya seperti etalase bagi Partai Golkar. Ketua DPR sebagai representasi lembaga tinggi ini sedikit banyak akan mempengaruhi Partai Golkar dan DPR RI. Apalagi, sisa waktu menjelang pemilu 2019 efektifnya kurang lebih setahun lagi. Dengan kata lain, posisi Ketua DPR yang diisi oleh kader Partai Golkar harus menjadi salah satu unsur motor kebangkitan Partai Golkar termasuk PDI Perjuangan.

Nama Bambang Soesatyo merupakan salah satu kader Partai Golkar yang namanya disebut sebagai kandidat Ketua DPR. Reputasi Bambang di DPR cukup menonjol. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Komisi Hukum DPR RI. Selain menjadi politisi, Bambang juga dikenal sebagai pengusaha yang sukses.

Bamsoet, demikian ia kerap disapa, memiliki jejak rekam sebagai anggota DPR yang bersuara lantang dan pendorong gerakan perubahan dari parlemen. Seperti saat menjadi anggota DPR periode pertama, Bambang merupakan inisiator Pansus Angket Century. Pansus Angket KPK, Bambang juga termasuk menjadi bagian yang aktif dalam proses di DPR.

Figur Bambang yang aktif, dinamis, dan berlatabelakang sebagai aktivis organisasi ini memiliki komunikasi yang artikulatif bagi mantan wartawan ini. Keterampilan komunikasi ini diyakini akan membantu pola komunikasi bagi DPR dan Partai Golkar dalam menyampaikan isu-isu publik ke khalayak. Apakah akan berdampak pada elektoral Partai Golkar dan pemulihan citra DPR? Tentu butuh pembuktian waktu.

Sementara figur lainnya, Aziz Syamsuddin, setali tiga uang dengan Bambang Soesatyo. Latar belakang sebagai aktifis pemuda, Aziz merepresentasikan politisi yang aktif dan dinamis. Mantan Ketua Komisi III DPR RI dan kini menjabat sebagai Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini memiliki jejak rekam yang kuat di bidang hukum.

Doktor di bidang hukum ini merupakan calon Ketua DPR yang diusulkan Setya Novanto. Poin ini bisa menjadi poin positif dan negatif sekaligus. Dukungan Setya Novanto yang saat ini menjadi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta ini bisa berdampak negatif bagi Aziz karena didukung oleh Setya Novanto. Hal itu juga terjadi sesaat Setya Novanto berkirim ke DPR dengan menunjuk Aziz sebagai penggantinya. Fraksi Partai Golkar saat itu, menolak usulan Setya Novanto tersebut.

Sisi positifnya, jejaring Setya Novanto di tubuh Partai Golkar diyakini hingga saat ini masih cukup kuat. Dukungan Setya Novanto ke Aziz dapat menjadi modal dasar bagi Aziz untuk memperoleh dukungan tambahan dari elit Golkar lainnya, khususnya dari mereka yang masih memiliki afiliasi politik dengan Setya Novanto.

Figur lainnya Agus Gumiwang Kartasasmita. Figur yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR RI ini namanya tak begitu menonjol di ruang di parlemen. Namanya sempat mencuat saat rebutan kantor Sekretariat Fraksi Partai Golkar lantai 12 gedung Nusantara I DPR RI ketika konflik internal mendera Partai Golkar. Agus termasuk sosok yang terdepan saat proses pengambilalihan kantor Sekretariat Fraksi Partai Golkar pada awal 2015 lalu, meskipun langkah saat itu gagal.

Agus saat Pilpres 2014 lalu juga mbalelo dengan keputusan resmi DPP Partai Golkar yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Ia bersama sejumlah fungsionaris Partai Golkar mendukung pasangan capres yang tidak didukung Partai Golkar yakni Jokowi-JK.

Sosok Agus yang kontras dengan figur Bambang dan Aziz yang cenderung aktif dan dinamis ini memiliki plus minus bagi Golkar. Untuk kepentingan stabilitas politik Golkar dan pemerintahan Jokowi, figur Agus cocok memimpin DPR.

Namun, untuk kepentingan progresifitas gerakan politik Golkar untuk kebangkitan Partai Golkar dan DPR, figur Agus kurang tepat dengan karakternya yang kurang dinamis dan tidak memiliki latarbelakang aktivis seperti Bambang maupun Aziz.

Plus minus masing-masing kandidat Ketua DPR dari Golkar tentu memiliki untung rugi baik untuk Golkar maupun DPR. Para petinggi Golkar tentu harus menyesuaikan dengan kebutuhan politik menyongsong Pemilu 2019 mendatang.

Komentar

 
Embed Widget

x