Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Oktober 2018 | 17:54 WIB

3 Orang Tewas di Dalam Septic Tank yang Baru

Rabu, 27 Desember 2017 | 20:43 WIB

Berita Terkait

3 Orang Tewas di Dalam Septic Tank yang Baru
(Foto: Beritajatim)

INILAHCOM, Sidoarjo - Suasana duka menyelimuti keluarga Jamil (60) warga Dusun Jurang Pelen, Desa Bulusari , Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Rabu (27/12/2017).

Dua putra Jamil, Mujiono (47) dan Suparno (46) serta satu cucunya Junaedi (23) tewas saat menggali untuk membuat septic tank di belakang rumahnya.

Kejadian itu berawal, Suparno dan anaknya Junaedi sedang membuat septic tank baru karena septic tank lama sudah penuh kondisinya. Dalam mengerjakan septic tank baru, mereka berhasil menggali dengan kedalaman 4,5 meter.

Lalu keduanya naik dari galian septic tank baru. Sesudah naik, Suparno ini terpeleset ke dalam galian septic tank baru yang berdampingan dengan septic tank lama. Di sanalah, Junaedi berusaha menyelamatkan bapaknya.

Dalam septic tank itu, sudah banyak kotoran dan airnya. Dugaan kuat, ada kebocoran di septic tank baru sehingga air dan kotoran di septic tank lama mengalir.

Septic tank lama ini memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter. "Nah, dari teriakan Junaedi ini warga akhirnya tahu kalau ada orang tenggelam di dalam galian. Junaedi sebelum tenggelam itu juga sempat berteriak minta tolong," kata Rudi Susilo warga setempat.

Rudi menyampaikan, setelah itu, dirinya dan warga langsung datang ke lokasi. Sayangnya, warga pun tidak berani masuk ke dalam lubang itu. "Saya sampai itu Junaedi dan Suparno sudah tidak ada. Mereka sudah tenggelam di dalam galian septic tank baru itu," terangnya.

Tak lama, Mujiono, kakak Suparno, anak pertama Jamil, datang dan langsung masuk ke dalam galian tersebut. Ia nekat dan niat menolong adik dan keponakannya itu. Sayangnya, ia pun tak nampak setelah masuk ke dalam galian.

"Ketiganya tenggelam di dalam galian. Kami sudah tidak berani mau memberikan pertolongan, tapi kami langsung lapor polisi," tandasnya.

Tak lama, Jamil, bapak dari Mujiono dan Suparno, sekaligus kakek dari Junaedi datang memberikan pertolongan. Berbekal tali tampar dan satu timba plastik yang biasa digunakan untuk mengambil air di sumur, Jamil turun ke galian.

Di dalam galian, Jamil mencari dua anak dan satu cucunya itu. Ia mengaitkan tali tampar itu ke tubuh tiga korban. Selanjutnya, ia minta orang yang di atas galian untuk membantunya menarik tiga korban tersebut.

"Sampai di atas, sebenarnya mereka sudah tidak bernyawa, namun keluarga meminta tiga korban untuk membawa ke rumah sakit, termasuk mbah Jamil. Kondisi mbah Jamil kritis, dia susah nafas dan lemas. Jadi empat orang dibawa ke rumah sakit," imbuhnya.

Di lokasi juga muncul versi lain terkait dengan jatuhnya tiga korban ke dalam galian septic tank sedalam 4,5 meter itu.

"Jadi, awalnya Junaedi ini katanya mencium bau menyengat. Informasinya sih bahu gas, dan itu membuatnya jatuh ke dalam galian," kata Abah Sholeh, salah satu warga.

Cerita itu, kata dia, didapatkannya setelah mendengar cerita anaknya Junaedi. Kata dia, Junaedi sempat cerita sebelum yang bersangkutan memutuskan untuk masuk ke dalam galian menolong bapaknya.

"Dia (Junaedi) tanpa perhitungan. Dia turun karena tidak tega melihat bapaknya. Belum sampai dasar, dia sudah jatuh. Kayaknya kena bau gas. Itu juga dialami Mujiono yang terakhir kali menolongnya," ungkapnya.

Kendati demikian, Sholeh tidak bisa menjelaskan detail bau gas itu. Kata dia, di desa ini, memang ada gasnya. Tapi, ia tidak mengetahui jenis gasnya apa.

"Salah menggali bisa memicu munculnya bau gas yang beracun. Dulu di desa tetangga juga sempat ada yang ngebor sumur, eh muncul bau gas dan langsung meninggal dunia," tukasnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Tinton Yudha Riambodo mengatakan, pihaknya tidak bisa memproses perkara ini. Pihaknya tidak mendapatkan laporan dari keluarga korban. "Keluarga korban sudah menerima kejadian ini dan dianggap sebagai kecelakaan biasa," katanya.

Mantan Kasatreskrim Polres Lumajang ini mengatakan, pihak keluarga juga menolak visum dan otopsi jenazah tiga korban. "Hal ini dianggap keluarga sebuah musibah dan keluarganya bisa menerima," jelas Tinton.[beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x