Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 04:35 WIB

Politisi Golkar Harap Munaslub Bali Tidak Terulang

Oleh : Happy Karundeng | Rabu, 6 Desember 2017 | 03:06 WIB
Politisi Golkar Harap Munaslub Bali Tidak Terulang
Politikus Partai Golkar Indra Bambang Utoyo - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Politikus Partai Golkar Indra Bambang Utoyo mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan Partai Golkar jelang wacana pergantian Ketua Umum yang kian meluas.

Ia menjelaskan pergantian Ketua Umum memang harus melewati prosedur sesuai aturan partai yakni lewat Munaslub. Untuk itu, ia berharap agar jika Munaslub bergulir, apa yang terjadi di Munaslub Bali tidak akanterulang.

"Jangan ulangi Munaslub Bali! Pada Munaslub 2015 di Bali, tak terbayang berapa besar uang beredar dari para caketum untuk membujuk para voters. Munalub ini adalah puncak tidak sehatnya situasi perekrutan atau pemilihan pemimpin," katanya kepada INILAHCOM, Selasa (5/12/2017).

Ia mengaku partai Golkar harus dipimpin oleh orang yang betul-betul berkompeten dari segi kemampuan. TIdak hanya mempertimbangkan kemampuan ekonomis.

"Pada proses pemilihan pimpinan seperti dalam Munaslub Bali keterpilihan seorang Ketua Umum bergantung kepada tebalnya kantung si calon. Makin bertambah tebal kantong, bertambah besar kemungkinan seseorang terpilih. Bila masih terjadi lagi keadaan seperti ini pada Munas (yang mungkin terjadi), dimana pragmatisme memenangi idealisme, Partai Golkar tidak akan bisa beranjak untuk maju," ulasnya.

Seperti diketahui, seiring desakan pelaksanaan Munaslub akibat kekecewaan hasil rapat pleno yang masih mempertahankan Setya Novanto sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar, kini muncul nama-nama baru yang dijagokan menggantikan Setya Novanto.

Diantaranya Airlangga Hartarto, Wisnu Suhardono (Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah), Dedi Mulyadi (Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat), Andi Sinulingga (Koordinator Pemenangan Sumatera I).

Sebelumnya, KPK kembali menetapkan Novanto jadi tersangka. Status tersangka yang kedua kali diumumkan bersamaan dengan hari Pahlawan yakni tanggal 10 November 2017. Novanto kembali menjadi tersangka setelah status tersangka yang pertama lolos melalui praperadilan.

Novanto saat ini sudah resmi menjadi tahanan KPK. Dalam kasus ini Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Namun, Novanto membantah tuduhan ini. Dia pun kembali menggugat KPK.

Adapun, sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

Atas perbuatannya Novanto dijerat Pasal 2 ayat 1 Subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [hpy]

Komentar

 
x