Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 04:44 WIB

Implikasi Pensiun Dini Gatot Nurmantyo

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 4 Desember 2017 | 19:18 WIB
Implikasi Pensiun Dini Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tak lama lagi memasuki masa pensiun. Presiden Jokowi telah mengirim surat ke DPR soal pemberhentian Gatot dan mengajukan calon tunggal Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Apa implikasi politik terhadap Gatot Nurmantyo?

Nama Gatot Nurmantyo dalam setahun terakhir ini masuk dalam radar pembicaraan pentas politik nasional. Kiprah dan sepak terjangnya kerap dibaca sebagai langkah politik. Dalam sejumlah peristiwa krusial, Gatot kerap tampil berbeda. Salah satunya, momentum peringatan G30S/PKI pada Oktober lalu, Gatot juga mendorong anak buahnya untuk nonton bareng film pemberontakan PKI.

Selain itu, Gatot juga melontarkan informasi panas yang ia sebut sebagai informasi intelejen tentang penyelundupan 5.000 pucuk senjata. Hampir beberapa pekan polemik ini mencuat ke publik. Hingga kini, tak jelas kelanjut informasi tentang penyelenudupan senjata tersebut.

Pertengahan November lalu, sejumlah civil society organization (CSO) ramai-ramai bersuara mendesak agar presiden mengganti Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Salah satunya yang disuarakan Hendardi Ketua Setara Institute. Ia menilai Gatot kerap bertindak politis dan offside. "Jokowi tidak boleh bertaruh dengan gaya kepemimpinan Gatot yang politis dan seringkali offside dari kehendak presiden," kata Hendardi.

Tidak sekadar itu, aktivis CSO juga membuat kriteria calon Panglima TNI harus sosok yang terbuka, reformis, dan satu padu dalam langkah dan perbuatan dengan Presiden Jokowi sebagai Panglima Tertinggi TNI. "Gagasan dan program kemaritiman Jokowi, juga bisa jadi pertimbangan kebutuhan mencari sosok Panglima TNI yang mendukung penguatan pembangunan kemaritiman. Sekaligus membangun tradisi bergilir dalam memimpin TNI yang terdiri dari tiga angkatan," ujar Hendardi.

Sementara LSM Imparsial lebih konkret dengan menyebut figur yang tepat menggantikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Menurut Imparsial, Panglima TNI ke depan tidak boleh dari Angkatan Darat (AD) lagi. "Kalau hari ini dijabat oleh Angkatan Darat berlatarbelakang matra AD, Presiden harus mempertimbangkan bahwa Panglima TNI ke depan harus dijabat oleh Angkatan Udara ataupun Angkatan Laut," kata Wakil Direktur Imparsial Gufron Mabruri.

Kini, desakan LSM tersebut terwujud. Presiden benar-benar mencopot Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Padahal, Gatot secara resmi baru pensiun pada Maret 2018 mendatang. Presiden melalui Mensesneg Pratikno berkirim surat ke DPR pada Senin (4/12/2017) ihwal pemberhentian Panglima TNI dan pengusulan Panglima TNI Baru yakni Marsekal Hadi Tjahjanto.

"Tadi pagi saya menerima Mensesneg Prof Pratikno yang menyampaikan surat dari Presiden tentang rencana pemberhentian dengan hormat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan juga rencana untuk pengangkatan atau pergantian kepada Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI yang baru," kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (4/12/2017).

Sementara menurut Presiden Jokowi, dirinya optimistis dengan figur Marsekal Hadi Tjahjanto yang dinilai memiliki kemampuan dan kepemimpinan yang kuat serta diyakini bisa membawa TNI ke arah yang lebih profesional sesuai jati diri. "Yaitu sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional," ungkap Jokowi di sela-sela peresmian tol Sorean-Pasir Koja di Bandung, Senin (4/12/2017)

Adapun Gatot Numantyo enggan berkomentar banyak soal pemberhentian dirinya dari jabatan Panglima TNI. Menurut dia, Presiden lebih tahu soal pergantian dirinya dari jabatan sebagai Panglima TNI. Ia menegaskan Presiden memiliki kewenangan mengganti Panglima TNI yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. "Yang lebih tahu Presiden karena Presiden yang akan menggunakan Panglima yang menggantikan saya berdasarkan tantangan tugas ke depan," cetus Gatot.

Dengan berakhirnya masa jabatan Gatot, praktis panggung untuk Gatot tak ada lagi yang digunakan. Padahal, dalam beberapa bulan terakhir, nama Gatot menghiasi sejumlah lembaga riset politik untuk maju menjadi calon wakil presiden 2019 mendatang.

Meski demikian, jika skenario Gatot diproyeksikan menduduki pos cawapres dalam Pemilu 2019 mendatang khususnya untuk dipasangan dengan Jokowi, tentu Gatot pasca-purna tugas sebagai Panglima TNI akan ditempatkan pada pos strategis seperti jabatan level menteri dan sejenisnya.

Namun jika Gatot seusai pensiun tidak menduduki jabatan publik apapun, bisa dipastikan figur Gatot bakal masuk keranjang dari nominator Cawapres Jokowi untuk 2019 mendatang.

Bagaimana peluang nama Gatot untuk dipasangkan dengan kandidat di luar Jokowi? Masih saja kemungkinan tersebut terbuka. Kendati, porsi panggung yang tersedia relatif kecil yang berdampak pada figurnya yang secara pelan bakal tenggelam.

Komentar

 
x