Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 04:43 WIB

Jokowi Itu Sederhana, Mitos atau Fakta?

Oleh : Alfian Muzani | Senin, 4 Desember 2017 | 11:29 WIB
Jokowi Itu Sederhana, Mitos atau Fakta?
Presiden Joko Widodo - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pertanyaan di atas penting dikemukakan karena dua hal. Pertama, kesederhanaan menjadi mantera mujarab Joko Widodo alias Jokowi dalam meraih kemenangan pada dua pemilihan, yakni pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2013 dan pemilihan Presiden RI 2014. Kesederhanaan yang dicitrakan pada mantan Walikota Solo ini menjadi magnet dahsyat dalam menyedot perolehan suara.

Kedua, Jokowi sudah hampir empat tahuntiga tahun lebihmenduduki jabatan presiden. Sebentar lagi bangsa ini memasuki masa pesta demokrasi untuk menentukan siapa tokoh yang pantas jadi Kepala Negara lima tahun berikutnya. Tentu perlu ada evaluasi, apakah karakteristik sederhana itu masih melekat pada diri Jokowi? Atau apakah di mata publik Jokowi masih bernilai sederhana?

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan di atas, idealnya memang perlu dilakukan survei komprehensif. Namun untuk memperoleh gambaran awal, bisa juga dilakukan semacam questioner guyonan di sosial media, seperti Facebook yang sifat pertemananya cukup heterogen atau bisa juga pakai Twitter.

Sebuah pertanyaan, "Presiden Jokowi Sederhana! Mitos atau fakta?" Kurang dari satu jam 38 responden menjawa "mitos" dan hanya 2 responden (satu pegawai BUMN satu lagi PNS) yang menjawab fakta. Hasil survei guyonan ini tentu jauh dari valid. Namun patut dicermati, karena jawaban "mitos" ini dinyatakan dengan tegas dan kelihatannya tidak 'guyon'. Hal ini boleh jadi merupakan indikator mulai pudarnya "mantera sederhana" yang menjadi kekuatan Jokowi selama ini.

Mengapa "mantera sederhana" Jokowi mulai luntur? Paling tidak ada dua peristiwa besar yang bisa dijadikan kambing hitam penyebabnya. Pertama, kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat banyak, baik kebijakan ekonomi maupun politik dan hukum. Yang paling terasa adalah kebijakan ekonomi mulai dari penghapusan subsidi energilistrik, gas, minyakkebijakan perpajakan yang terkesan kemaruk, dan lain-lain. Kebijakan politik dan hukum yang paling dianggap merugikan penduduk mayoritas adalah Perpu UU Ormas. Perlakukan hukum juga dianggap menyinggung rasa keadilan umat.

Peristiwa kedua, pehelatan akbar pesta perkawinan Kahiyang-Bobby. Pesta penikahan putri Jokowi ini menyedot perhatian publik, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Ini lantaran pesta tersebut sangat spektakuler lantaran jumlah tamunya lebih dari 8.000 orang dan terkesan sangat mewah lantaran menampilkan pawai 8 kereta kencana yang lazimnya hanya digunakan pada pesta penikahan anak raja-raja Jawa zaman kejayaan Majapahit dan Mataram dulu. Fakta ini dianggap tak cocok dengan kebijakan pemerintahMenteri PAN-RByang membatasi jumlah tamu yang dihelat pejabat negara hanya 400 orang saja.

Mungkin tak ada yang salah dengan penyelenggaraaan pesta pernikahan yang spektakuler itu. Misalnya, tak ada uang negara yang digunakan untuk membiayai pesta itu. Paling tidak itu menurut keterangan resmi. Namun dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa sebagai mayoritas penduduk negeri ini, ada hukum kepatutan yang harus ditaati seorang pejabat publik. Orang Jawa bilang, "ngono yo ngono ning ojo ngono." Pesta itu bener ning ora pener" (benar tapi tidak tepat). Hukum kepatutan ini yang dilanggar keluarga Jokowi. Tak ada sanksi perdata atau pidana bagi pelanggarnya. Yang ada hanya sanksi moral dan sanksi sosial, antara lain orang mulai meragukan "mantera sederhana" itu.

Berlakunya hukum kepatutan bagi keluarga Jokowi ini, tampak sejalan dengan hasil kuis guyonan di Facebook. Sebagian besar yang menyatakan bahwa kesederhanaan Jokowi itu mitos adalah orang Jawa. Sayangnya, tak ada orang yang melakukan survei tentang kederhanaan Jokowi sebelum dilakukan pesta perkawinan Kahyang-Bobby yang spektakuler itu. Sehingga hasil survei guyonan itu tidak memiliki pembanding. Maklumah guyonan!

[rok]

Tags

Komentar

 
x