Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 21 November 2017 | 03:50 WIB

Kepala BKD Cilegon Diperiksa KPK

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 14 November 2017 | 12:26 WIB
Kepala BKD Cilegon Diperiksa KPK
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Cilegon Mahmudin dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penyidikan kasus dugaan suap izin pembangunan TransMart di sana.

Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) Tubagus Donny Sugihmukti (TDS).

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka TDS," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Bersama Mahmudin, penyidik juga memanggil saksi bernama Dony. Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi (TIA). Keterangan Donny dibutuhkan untuk mendalami kasus sekaligus melengkapi berkas penyidikan Iman.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya menetapkan Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi sebagai tersangka kasus dugaan suap perizinan kawasan industri di wilayah Cilegon.

Selain Iman, penyidik KPK juga ikut menetapkan lima tersangka lain yakni Kepala BPTPM Kota Cilegon Ahmad Dita Prawira; Hendry selaku pihak swasta; Dirut PT KIEC Tubagus Donny Sugihmukti.

Kemudian, Legal Manager PT KIEC Eka Wandoro dan terakhir Project Manager PT BA Bayu Dwinanto Utomo. Lima di antaranya terjaring OTT KPK pada Jumat 22 September hingga Sabtu 23 September 2017 dini hari, hanya Dony yang lolos.

Dalam kasus ini, Iman diduga kuat telah menerima suap Rp1,5 miliar untuk memuluskan proses perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Transmart yang akan dibangun di Lapangan Sumampir, Jalan Yasin Beji, Kebon Dalem, Kota Cilegon. Transaksi suap kali ini menggunakan modus baru.

Di mana pihak penyuap yakni PT KIEC dan PT BA memberikan uang suap ke Iman melalui dana CSR pada Cilegon United Football Club. Saat penangkapan, penyidik menyita uang tunai Rp1,125 miliar dari perjanjian Rp1,5 miliar.

Akibat perbuatannya, Iman dan Ahmad Dita sebagai pihak penerima dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 Tahun 2001, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara, Hendry, Tubagus Donny, Eka Wandoro dan Bayu Dwinanto sebagai pihak pemberi dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 Tahun 2001, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [rok]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x