Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 20:12 WIB

Pahlawan Harus Lahir dari Berbagai Bidang

Oleh : Ajat M Fajar | Jumat, 10 November 2017 | 13:50 WIB
Pahlawan Harus Lahir dari Berbagai Bidang
Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - DPP LDII mengingatkan kembali peran penting organisasi kemasyarakatan di Hari Pahlawan 10 November ini.

Bahkan LDII menggelar acara dialog kebangsaan untuk memperingati Hari Pahlawan pada hari ini dengan tema "Pahlawan dan Pembangunan Karakter Bangsa".

"Latar belakang acara ini adalah mengangkat peran ormas dalam pembentukan Republik Indonesia, mulai dari era pergerakan nasional hingga revolusi fisik," ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo, Jumat (10/11/2017).

Menurut dia, kesadaran nasionalisme Indonesia dibangun oleh ormas-ormas yang bersentuhan langsung permasalahan bumiputera saat itu. Mereka mewakili berbagai golongan untuk mendapatkan persamaan hak dan akses terhadap ekonomi yang dikuasai asing.

Lalu muncullah Sarekat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), dan Sarekat Islam (1911). Organisasi-organisasi inilah yang mendorong tumbuhnya bibit-bibit nasionalisme dan menyemai munculnya partai-partai politik.

Pergerakan mereka inilah yang mendorong bangsa Indonesia, menyuarakan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.

"Perasaan nasionalisme yang menguat ini pada puncaknya, menciptakan kemampuan untuk merebut kemerdekaan dan membentuk sebuah negara. Maka pemerintah tidak bisa mengabaikan jasa ormas di hari pahlawan ini," imbuh Prasetyo.

Bahkan di saat penyusunan Pancasila, tokoh-tokoh ormas terutama ormas Islam bisa berkompromi dengan baik dengan tokoh-tokoh nasionalis. "Sehingga lahirlah Pancasila seperti yang kita kenal sekarang," ujar Prasetyo.

Dia mengungkapkan, tiga bulan pasca-proklamasi kemerdekaan RI, tantangan datang dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Di sinilah ormas Islam kembali berperan besar, ketika Rais Am PBNU KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, menyerukan Resolusi Jihad yang membangkitkan semangat rakyat di berbagai daerah untuk melawan penjajahan.

Melihat jasa ormas, Prasetyo menyarankan pemerintah agar bijak dalam penerapan Perppu No. 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi undang-undang (UU).

Menurut Prasetyo, peraturan ini memungkinkan pemerintah melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk membubarkan ormas yang dianggap berbahaya dan mengganggu ketertiban serta keamanan. Membubarkan ormas tanpa pengadilan adalah kemunduran berdemokrasi.

"Untuk mengenang jasa para pendiri bangsa, rakyat Indonesia, dan tentu saja ormas, 10 November menjadi hari libur nasional. Lalu mengartikulasikan dalam bentuk mendorong lahirnya pahlawan-pahlawan pembangunan di bidangnya," imbuh Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, menengaskan Pancasila yang dijabarkan dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya, tidak dapat diimplementasikan dengan baik karena karakter jati diri masyarakat Indonesia pudar. Hal ini berakibat pengamalan Pancasila turut bermasalah, terutama dalam hal ketuhanan dan keadilan sosial.

"Peradaban itu berlapis-lapis. Lapisan paling luar itu ilmu dan teknologi, lebih dalam lagi ada estetika, lebih dalam lagi etika dan paling dalam adalah semangat ketuhanan. Jadi kekuatan karakter yang berbasis pada nilai agama itu kuat sekali sebagai benteng pertahanan suatu bangsa," ujar Yudi.

Menurut dia, karakter jati diri bangsa bisa hidup jika pengamalan nilai-nilai agama berjalan dengan baik. Permasalahan saat ini, Indonesia mendapati dirinya sebagai negara multi agama yang terkadang saling menegasikan satu sama lain.

Yudi mengungkapkan jika hal tersebut bisa dicapai dalam persamaan dan menemukan titik temu keagamaan. Dalam hal ini seluruh agama di Indonesia punya cara pandang yang sama terhadap semesta, hal ini seperti kearifan dan harmoni.

"Semua bisa dicapai jika manusia mampu mengembangkan tiga relasi yang penuh welas asih, pertama relasi dengan Tuhan, kedua relasi dengan manusia, dan relasi dengan alam. Tiga relasi ini bisa diperas menjadi satu, yaitu dalam semangat gotong royong sebagaimana dikemukakan Soekarno, kemampuan menjalin kerja sama yang aktif dalam keberagaman," ujar Yudi.

Dengan demikian, pahlawan adalah karakter yang mampu menanggalkan sekat-sekat perbedaan. Dengan demikian di hatinya terdapat kerelaan dan keikhlasan untuk berbuat yang terbaik bagi umat manusia.

Ilmu dan kemampuan yang ia miliki, didermakan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.[jat]

Komentar

 
x