Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 16:18 WIB

Implikasi Gerilya Dini Cak Imin dan AHY

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 1 November 2017 | 17:51 WIB
Implikasi Gerilya Dini Cak Imin dan AHY
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono belakangan cukup rajin menggelar pertemuan di sejumlah daerah. Tidak sekadar pertemuan, pesan yang muncul selalu mendorong kedua tokoh tersebut menjadi bakal calon wakil presiden (Cawapres) di Pilpres 2019 mendatang.

Pemilu Presiden akan digelar 2 tahun lagi. Namun suasana menyambut tahun politik telah memanas di 2017 ini. Setidaknya, bursa nama calon wakil presiden (cawapres) pagi-pagi telah digulirkan di publik. Dua nama yang didesak-desak muncul yakni Ketua Umum DPP PKB A Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dan Agus Harimurti Yudhoyono atau yang dikenal dengan AHY. Kedua nama ini didorong menduduki posisi Cawapres.

Momentum peringatan sumpah pemuda pada 28 Oktober 2017 lalu dimanfaatkan oleh sejumlah orang untuk memunculkan dukungan kepada figur Cak Imin atau AHY. Dua orang ini dinilai representasi anak muda.

Seperti akhir pekan lalu, sekelompok orang yang mengatasnamakan Pro One mendorong Cak Imin dan AHY untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Alasannya, kedua figur ini selain masih muda juga memiliki pengalaman yang panjang. Kedua figur ini dinilai representasi dari anak muda yang muda, religius dan terbuka.

Awal pekan ini, melalui lembaga Jaringan Akar Rumput (Jangkar) Cak Imin juga mendeklarasikan dukungannya untuk mendorong Cak Imin maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Alasan dukungannya, senada dengan dukungan sebelumnya, faktor muda dan memiliki visi ke depan.

Seiring deklarasi dukungan kelompok masyarakat terhadap Cak Imin, sejumlah pengurus PKB dan anggota DPR dari Fraksi PKB melalui jejaring media sosial, tanpa tedeng aling-aling juga menyebarkan atribut flyer yang isinya berupa dukungan terhadap Cak Imin untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Posisinya yang dibidik juga sama, yakni Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Cak Imin sendiri, berbagai aktivitas politik ia lakukan nyaris tanpa jeda setiap hari dalam sepekan. Memang aktivitas tidak ada korelasi langsung dengan dorongan sebagian pihak kepada dirinya untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang, namun publik mafhum, aktivitas itu tidak bisa dilepaskan dari agenda politik 2019 mendatang.

Setali tiga uang, AHY melalui kendaraan The Yudhoyono Institute (TYI) keliling menggelar kuliah umum di berbagai kampus di Indonesia. Dalam beberapa event yang digelar, tampak tim yang menyiapkan acara AHY mendesain acara tersebut sedemikian rupa. Kesan yang ingin ditampilkan, AHY sosok muda yang cerdas memiliki pandangan jauh ke depan terhadap masa depan RI.

Tidak hanya itu, AHY juga menjumpai sejumlah tokoh politik di republik ini. Mulai dari Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto hingga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. AHY memposisikan seorang anak muda yang hormat terhadap politisi-politisi senior.

"Beliau-beliau ini (tokoh-tokoh yang ditemui AHY) sudah berpengalaman sehingga sudah ada hal-hal yang pernah dilakukan," kata Wakil Ketua DPR dari Frasi Partai Demokrat Agus Hermanto saat ditanya soal safari politik AHY, di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Secara kalkulasi politik merujuk hasil Pemilu 2014 lalu, baik PKB maupun Partai Demokrat, berada di posisi partai papan tengah. Secara kalkulatif, posisi partai politik papan tengah memang idealnya menduduki posisi Calon Wakil Presiden. Terlebih dalam pemilu 2019 mendatang, Pilpres dan Pileg digelar secara bersamaan.

Apalagi, persyaratan pencapresan, bila merujuk UU No 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pemilu, sebesar 20 persen. Dengan kata lain, menempatkan Cak Imin maupun AHY sebagai Cawapres dalam Pilpres 2019 mendatang dalam perspektif persyaratan pencapresan merupakan langkah yang tepat.

Kendati demikian, langkah dini dari dua tokoh ini yang diam-diam juga didukung oleh mesin partai ini, patut juga dihitung dari sisi efektivitas ke masyarakat. Memasarkan figur Cak Imin dan AHY di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang dari sisi ekonomi sedang mengalami persoalan pelik, bisa saja langkah dua tokoh ini kontraproduktif.

Bila pun muncul ke publik, tawaran solusi atas berbagai persoalan yang muncul di masyarakat yang dihadirkan dari dua tokoh ini semestinya juga dihadirkan. Cak Imin, dalam beberapa kali kesempatan telah membingkai dirinya sebagai sosok yang solutif. Sebut saja pembelaan terhadap nelayan atas kebijakan Menteri Susi. AHY hingga saat ini masih berkutat pada persoalan jargon dan diskursus yang abstrak.

Di samping persoalan tersebut, sisi personalitas kedua tokoh ini, ketika siap memasarkan diri sebagai cawapres harus siap dibedah oleh publik, baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya. Pertanyaannya, apakah kedua tokoh ini siap menghadapi audit jati diri dari publik atas jejak rekam masa lalunya? Karena di bab ini, bisa saja nama yang dielus-elus sejak dini justru saat hari H layu sebelum berkembang. Banyak contoh yang bisa dihadirkan atas fenomena ini.

Komentar

 
x