Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 07:44 WIB

Bursa Cawapres 2019 Lebih Dinamis Ketimbang Capres

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 30 Oktober 2017 | 21:18 WIB
Bursa Cawapres 2019 Lebih Dinamis Ketimbang Capres
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemilu 2019 yang akan digelar secara seretak telah mulai panas oleh sejumlah elektabilitas figur dalam Pilpres mendatang. Nama Jokowi dan Prabowo masih mendominasi figur yang paling banyak dipilih publik. Namun diyakini, figur Cawapres yang justru akan muncul lebih dinamis.

Figur calon presiden 2019 diprediksikan tidak akan keluar dari dua sosok dominan dalam Pilpres 2014 lalu yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dua nama ini, dalam berbagai riset yang digelar periode September hingga Oktober, masih mendominasi di peringkat pertama dan kedua calon yang banyak dipilih oleh responden.

Situasi itu pun tampak disadari oleh partai politik lainnya. Setidaknya partai politik di papan tengah justru pagi-pagi telah memuncullan jagoannya untuk dipasang sebagai calon wakil presiden. Setidaknya dua figur telah terang-terang didorong di internal partai masing-masing yakni Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar saat ditanya dorongan dari internal kader PKB agar maju menjadi cawapres, secara diplomatis Muhaimin menyebutkan dirinya tergantung aspirasi dari para kiai. "Kita lihat pendapat kiai-kiai," ujar Muhaimin ditemui usai acara peringatan HUT Fraksi PKB di Kompleks Parlemen belum lama ini.

Sementara PAN juga terang-terangan mendorong Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan agar maju dalam Pilpres 2019 mendatang dalam posisi Cawapres. Sekjen PAN Edi Soeparno mengatakan pihaknya telah diamanatkan untuk mendorong Zulkifli sebagai Cawapres. "Saat ini kita sudah diamanatkan untuk untuk mendorong Zulkifli Hasan ikut bertarung di 2019," ujar Edi.

Figur lainnya dari kalangan internal partai, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga turut meramaikan bursa cawapres di Pemilu 2019 mendatang. Kendati tidak aktif sebagai politisi di Partai Demokrat, aktivitas AHY di The Yudhoyono Institute dinilai untuk perkuat citra diri. Meski gagal dalam Pilkada DKI 2017 lalu, nama AHY dinilai juga memiliki kans untuk bertanding di Pemilu 2019 mendatang.

Selain dua nama ketua umum partai itu, sejumlah nama lainnya juga sayup-sayup terdengar. Sebut saja Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Figur ini belakangan mencuat ke publik lantaran sejumlah manuvernya dianggap diarahkan untuk perkuat citra personalnya. Kalangan kelompok Islam, tidak sedikit yang mengelus figur ini karena dianggap merepresentasikan kelompok Islam. Meski figur ini disebut-sebut bakal melorot seiring dirinya pensiun dari Panglima TNI pada Maret 2018 mendatang.

Selain itu, nama Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyeruak ke publik. Namanya diproyeksinya sebagai pendamping Jokowi dimaksudkan untuk memperkuat sektor ekonomi di pemerintahan. Pengalaman Sri Mulyani di dunia internasional dinilai bagus untuk perkuat barisan tim ekonomi.

Lima nama cawapres yang mencuat ke publik tiga di antaranya dari partai politik dan dua lainnya dari kalangan profesional/aristokrat diprediksikan bakal meramaikan bursa cawapres untuk mendampingi figur yang diprediksikan akan maju dalam Pilpres mendatang yakni Jokowi dan Prabowo Subianto.

Masing-masing figur tersebut tentu merepresentasikan kelompok yang diwakili khususnya dari kalangan pemilih termasuk dari sisi kebutuhan dalam pemerintahan lima tahun ke depan setelah Pemilu 2019. Seperti figur Muhaimin Iskandar yang bisa disebut representasi kalangan Islam tradisionalis NU yang juga representasi dari Jawa, sedangkan Zulkfili Hasan juga bisa dianggap mewakili kelompok Islam modernis dari kalangan Muhammadiyah sekaligus figur luar Jawa.

Begitu juga AHY dianggap mewakili ceruk pemilih yang diidentifikasi oleh Partai Demokrat dari kalangan modernis-religius. Putera sulung SBY ini juga merupakan bekas jebolan tentara. Hal yang sama pada figur Gatot Nurmantyo yang belakangan menjadi idola baru dari kalangan Islam perkotaan juga dinilai mewakili kalangan militer sekaligus Jawa. Sedangkan figur Sri Mulyani yang bisa dikategorikan sebagai aristokrat/nasionalis bisa dianggap representasi gender dan dari Jawa.

Untuk menentukan siapa yang pas mendamingi masing-masing capres, identifikasi persoalan dan kebutuhan dalam Pemilu 2019 merupakan langkah tepat untuk menemukan kandidat cawapres yang tepat. Selain itu pula, faktor elektoral masing-masing figur itu harus diperhitungkan. Bagaimanapun, peran Cawapres cukup penting untuk memenangi kontestasi Pilpres mendatang.

Komentar

 
x