Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 01:46 WIB

Tiga Kelompok Ini Tidak Akan Diizinkan Masuk AS

Oleh : Fadhly Zikry | Rabu, 25 Oktober 2017 | 05:00 WIB
Tiga Kelompok Ini Tidak Akan Diizinkan Masuk AS
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tidak diizinkannya Panglima TNI Jenderal Gatot masuk ke Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian publik. Setidaknya ada tiga hal yang membuat negeri Pamam Sam tersebut melarang seseorang masuk AS.

"Ada banyak lah, kalau militer biasanya ada tiga hal, atau pejabat kepolisian atau yang keamanan itu ada tiga hal. Pertama soal pelanggaran HAM," kata pengamat militer Muradi kepada INILAHCOM, Selasa (24/10/2017).

Kedua lanjut Muradi, yaitu orang-orang yang dianggap mengganggu kepentingan politik Amerika Serikat. Dan yang ketiga kelompok yang dianggap dekat dengan kelompok Islam yang berlawanan dengan kepentingan AS.

"Ketiga dianggap dekat dengan kelompok atau aktor yang berseberangan dengan pemerintah AS," ujarnya.

Muradi pun menduga karena alasan dekat dengan kelompok Islam itulah, Jenderal Gatot masuk dalam daftat blakclist AS. Muradi pun meceritakan pengalamannya yang juga pernah mengalami hal yang sama dengan Gatot.

"Karena waktu saya juga 2008 kan saya juga mengalami hal yang sama dengan pak Gatot, tapi saya waktu itu udah masuk Amerika Serikat, tapi ga bisa keluar bandara, karena nama saya dianggap nama yang kemudian ada ikatan dengan teroris, nama saya kan Muradi aja, ternyata setelah dicek lagi sampai saya 8 jam saya menunggu disitu," ungkap Muradi.

Seperti diketahui, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ditolak masuk ke AS sesaat akan berangkat menuju negeri Paman Sam tersebut Sabtu (21/10) pekan lalu. Meski sudah mengurus visa, penolakan tersebut disampaikan oleh maskapai Emirates kepada Jenderal Gatot.

Sedianya Panglima akan menghadiri undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Dunford, dalam acara Chiefs of Defense Conference on Countering Violent Extremist Organization, pada 23-24 Oktober di Washington DC. Meski penolakan tersebut sudah dicabut, Panglima pun akhirnya urung untuk menghadiri kegiatan tersebut. [fad]

Komentar

 
x