Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 21:20 WIB

KPK Ungkap Alasan 4 Kasus Besarnya Mangkrak

Oleh : Ivan Setyadi | Kamis, 12 Oktober 2017 | 14:53 WIB
KPK Ungkap Alasan 4 Kasus Besarnya Mangkrak
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyadari hingga saat ini masih ada kasus-kasus korupsi yang belum terselesaikan, atau tertunda cukup lama. Beberapa kasus diketahui tak jelas kelanjutannya sejak KPK era sebelumnya.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menyebut, ada kendala tersendiri kenapa KPK tak juga melanjutkan kasus lama.

"Penanganan sebuah perkara tentu butuh waktu. Dan itu tergantung kerumitan perkara tersebut," kata Febri kepada wartawan, Kamis (12/10/2017).

Setidaknya, ada empat kasus besar yang proses penyidikannya berjalan lambat atau bisa dibilang jalan ditempat.

Sejumlah kasus itu diantaranya, kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II yang menjerat mantan Dirut PT Pelindo II, RJ Lino. Kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik dari mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah.

Ada juga kasus dugaan korupsi penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang menjerat Gubernur Sulawesi Tenggara nonaktif, Nur Alam, dan kasus dugaan korupsi pemberian Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI).

Kasus dugaan korupsi tiga unit QCC sudah ditangani KPK dengan menetapkan RJ Lino sebagai tersangka sejak 18 Desember 2015. Namun, hingga saat ini, KPK belum juga menyelesaikan penyidikan kasus tersebut. Bahkan, RJ Lino diketahui terakhir diperiksa pada Februari 2017 lalu.

Sementara kasus dugaan TPPU Wawan merupakan pengembangan penyidikan kasus dugaan suap Pilkada Lebak, Banten di MK. Dalam mengusut kasus ini, KPK telah menyita lebih dari 80 unit kendaraan terkait Wawan.

Tak hanya itu, KPK juga telah menyita 17 bidang tanah milik Wawan di Bali. Namun, hingga kini, kasus pencucian uang ini seolah jalan di tempat.

"Kasus TPPU untuk TCW (Tubagus Chaeri Wardana) ada aset-aset yang harus dipetakan satu persatu termasuk yang berada di luar negeri," kata Febri.

Demikian juga halnya dengan kasus dugaan korupsi tiga unit QCC. Febri mengatakan, KPK terus berkoordinasi dengan penegak hukum di luar negeri, terutama Tiongkok dalam menuntaskan kasus ini. Hal ini lantaran Wuxi Huangdong Heavy Machinery (HDHM) sebagai perusahaan penyedia QCC merupakan perusahaan pelat merah Tiongkok.

Selain itu, KPK juga terus mengumpulkan bukti-bukti terkait kasus ini."Kerja sama dengan negara lain dilakukan, selain itu alternatif pembuktian lain juga dilakukan," katanya.

Sementara beberapa bulan terakhir, KPK disibukkan dengan rentetan Operasi Tangkap Tangan (OTT) berbagai kepala daerah serta penyelenggara negara.[jat]

Tags

Komentar

 
x