Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 07:07 WIB

Revitalisasi Partai Golkar, Solusi Setengah Hati

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 12 Oktober 2017 | 13:10 WIB
Revitalisasi Partai Golkar, Solusi Setengah Hati
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - DPP Partai Golkar melakukan pembaharuan kepengurusan. Sejumlah figur baru masuk mengisi pos penting di partai berlambang pohon beringin itu. Revitalisasi dimaksudkan untuk menggariahkan kepengurusan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Setya Novanto.

Revitalisasi kepengurusan Partai Golkar merupakan bagian dari ikhtiar politik Partai Golkar dalam menghadapi sejumlah hajatan politik pada 2018 yakni Pilkada serentak dan 2019 dengan Pemilu serentak. Ada tiga nama baru yang menonjol terkait dengan revitalisasi kepengurusan Partai Golkar ini yang berasal dari kalangan purnawirawan TNI/Polri.

Seperti Letjen (Pur) Eko Wiratmoko yang ditunjuk sebagai Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan menggantikan Yorrys Raweyai, Irjen (Purn) Benny Mamoto ditunjuk sebagai Kepala Bidang Desentralisasi menggantikan Aziz Syamsudin, serta Komjen (Purn) Anang Iskandar ditunjuk sebagai Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Partai Golkar.

Revitalisasi kepengurusan Partai Golkar seperti menjawab sejumlah peristiwa sebelumnya yang menimpa aktivis Partai Golkar seperti status hukum Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto yang sempat menjadi tersangka dalam kasus E-KTP dan ditangkapnya sejumlah kepala daerah yang berasal dari Partai Golkar oleh KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Jika mencermati sejumlah temuan survei politik terbaru, keterpilihan (elektabilitas) Partai Golkar cenderung mengalami penurunan. Seperti temuan riset Indikator Politik Indonesia (IPI) yang mengungkapkan elektabilitas Partai Golkar pada periode survei 17-24 September 2017 lalu sebesar 12,0 persen.

Jika dibandingkan dengan periode survei tahun lalu, capaian Partai Golkar ini mengalami tren penurunan karena di periode Agustus 2016, elektabilitas Partai Golkar mencapai 16,1 persen. "Dibanding tahun lalu, PDIP dan Partai Golkar kecenderungannya melemah," beber Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanudin Muhtadi, Rabu (11/10/2017).

Posisi Partai Golkar saat ini juga ditempel ketat oleh Partai Gerindra. Temuan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan riset pada periode 2-10 September 2017 mengungkapkan elektabilitas Partai Golkar sebesar 11,4 persen. Angka ini tidak terpaut jauh dengan Partai Gerindra yang mencapai 10,2 persen di periode yang sama.

Jika mencermati posisi Partai Golkar saat ini, ikhtiar memasukkan darah segar dalam daftar kepengurusan Partai Golkar tentu dimaksudkan untuk menyuntik energi baru bagi partai terbesar di era Orde Baru ini. Meski demikian, persoalan yang terjadi di tubuh Partai Golkar seperti persoalan hukum yang sempat dikaitkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto termasuk terseretnya pimpinan Partai Golkar yang juga menjadi kepala daerah dalam pusaran korupsi tentu dapat diidentfiikasi sebagai masalah utama yang saat ini menjerat Partai Golkar.

Masuknya sejumlah tokoh baru di Partai Golkar dalam kontes ini, belum menjawab tuntutan publik soal integritas di tubuh Partai Golkar. Terjeratnya sejumlah kader Partai Golkar dalam kasus korupsi, semestinya dijawab dengan langkah konkret misalnya memecat kader-kader yang terlibat dalam kasus korupsi.

Sampai saat ini, Partai Golkar mengesankan tidak bersikap keras terhadap kader yang terduga terlibat kasus korupsi. Bandingkan dengan partai lain seperti Partai NasDem, begitu terdapat kader yang menjadi tersangka korupsi, langsung dipecat dari keanggotaan partai.

Solusi yang ditawarkan Partai Golkar dengan menggandeng sejumlah figur baru untuk masuk dalam kepengurusan Partai Golkar seperti menggaruk bagian tubuh yang tidak gatal. Masalah utama di Partai Golkar soal komitmen integritas partai ini dalam persoalan korupsi.

Jika Partai Golkar setengah hati dalam melakukan perubahan di internal Partai Golkar, tidaklah mustahil, Partai Golkar harus puas berada di bawah Gerindra bahkan di partai-partai lainnya dalam Pemilu 2019 mendatang.

Komentar

 
x