Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 12:40 WIB

Kepala Bakamla Dipanggil KPK Terkait Suap

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 11 Oktober 2017 | 11:27 WIB
Kepala Bakamla Dipanggil KPK Terkait Suap
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Kemanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Ari Sudewo dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (11/10/2017).

Ari akan dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap proyek pengadaan satelit monitoring atau pengawasan di Bakamla. Pemeriksaan ini untuk melengkapi berkas penyidikan Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla Nofel Hasan.

"Dia akan dimintai keteranfan sebagai saksi untuk tersangka NH (NH)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Bukan pertama kalinya Ari berurusan dengan KPK. Sebelumnya dia pernah dalam persidangan kasus ini dengan beberapa tersangka.

Salah satu tersangka kasus suap ini, mantan Deputi Informasi Hukum dan Kerja Sama Bakamla Eko Susilo Hadi menyebut, pembagian jatah fee 7,5 persen dalam proyek pengadaan satelit monitoring merupakan arahan Ari.

Fee tersebut tak diberikan sekaligus, namun diberikan 2 persen terlebih dulu. Eko diminta Ari membagi jatah 2 persen tersebut untuk Direktur Data dan Informasi Bakamla Laksamana Pertama Bambang Udoyo, yang jadi tersangka di Puspom TNI dan Nofel Hasan masing-masing 1 persen atau sebesar Rp1 miliar.

Menurut Eko, seluruh kebijakan dalam pelaksanaan proyek pengadaan satelit monitoring berada di bawah kewenangan Ari.

Proses penunjukan dirinya sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek itu juga berdasarkan Surat Keputusan Kepala Bakamla, termasuk penunjukkan Bambang sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek.

Namun, Ari telah menepis tudingan bahwa dirinya ikut membahas besaran fee dari proyek senilai Rp222,43 miliar. Ari menyatakan dalam persidangan, bahwa dirinya tak tahu menahu soal penerimaan uang yang dilakukan anak buahnya itu.

KPK sedikitnya telah menjerat lima tersangka dalam kasus suap proyek Bakamla ini, termasuk Nofel Hasan dan Eko Susilo Hadi

Mereka di antaranya Direktur PT Melati Technofo Indonesia Fahmi Darmawansyah, dua anak buah Fahmi, Muhammad Adami Okta dan Hardy Stefanus.

Dalam perkara ini, Fahmi sebagai pihak penyuap telah divonis 2,8 tahun penjara. Sementara dua anak buahnya, Adami Okta dan Hardy divonis 1,5 tahun penjara. Sedangkan Eko Susilo divonis 4,3 tahun penjara dan denda Rp200 juta. [rok]

Tags

Komentar

 
x