Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 07:08 WIB

Jenderal Gatot, Pilihan Moderat Koalisi Jokowi?

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 10 Oktober 2017 | 16:13 WIB
Jenderal Gatot, Pilihan Moderat Koalisi Jokowi?
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyeruak disandingkan dengan Joko Widodo dalam Pilpres 2019 mendatang. Nama ini disebut oleh partai-partai yang sejak awal telah menyatakan dukungan untuk Jokowi. Bagaimana peluang duet ini?

Gatot dalam setahun terakhir ini memang telah dilekatkan dengan kelompok Islam. Sikapnya yang berbeda dengan beberapa tokoh dalam merespons aksi bela Islam akhir tahun lalu, menguatkan citra Gatot dekat dengan kelompok Islam.

Puncaknya saat peringatan G30S/PKI bulan September lalu, sikap Gatot yang mendorong nonton bareng film G30S/PKI semakin mengukuhkan posisi Gatot yang dilekatkan dengan kelompok Islam. Tragedi PKI tahun 1965, erat dikaitkan perseteruan kelompok Islam dengan PKI. Apalagi saat itu, polemik soal pembelian senjata juga mencuat ke permukaan. Gatot semakin kukuh sebagai Panglima TNI yang dekat dengan rakyat, khususnya kelompok Islam.

Kini justru Gatot digadang-gadang sejumlah partai politik yang sejak awal menyatakan dukungan ke Jokowi untuk periode keduanya dalam Pemilu 2019 mendatang. Apalagi, tak lama lagi Gatot memasuki masa pension, awal 2018 mendatang. Sejumlah partai sudah membuka pintu untuk Gatot seperti PPP, PKB, Partai NasDem, termasuk Partai Golkar.

Masuknya Gatot dalam radar cawapres yang bisa disandingkan dengan Jokowi memang cenderung rasional. Setidaknya, jika melihat kriteria yang dibutuhkan untuk mendampingi Jokowi sebagai pendampingnya tidak jauh berbeda dengan situasi di Pemilu 2014 lalu. Pendamping Jokowi harus melengkapi sisi kelemahan Jokowi.

Kelemahan Jokowi yang paling seringkali jadi pembicaraan adalah ada kesan masih adanya jarak dengan kelompok Islam. Hal ini pula salah satunya yang menjadi alasan menggandeng Jusuf Kalla dalam Pemilu 2014 lalu. JK yang memang dikenal dekat dengan kalangan Ormas Islam diharapkan mampu menutupi kelemahan Jokowi.

Situasi serupa juga besar kemungkinan akan muncul dalam Pemilu 2019 mendatang. Setidaknya selama tiga tahun pemerintahan Jokowi, kesan Jokowi tidak mengakomodasi kepentingan kelompok Islam masih cukup kuat. Setidaknya itu yang dipersepsikan mereka yang kontra dengan pemerintahan Jokowi. Padahal, soal tersebut terbuka untuk diperdebatkan.

Nah, figur Gatot yang selama setahun terakhir ini lekat dengan kelompok Islam, bisa saja dapat mengisi kekurangan atau kelemahan yang dipersepsikan pada diri Jokowi. Kendati, yang patut digali kembali, apakah dukungan kalangan kelompok Islam terhadap Gatot akan juga terbawa saat mendampingi Jokowi kelak? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu butuh riset mendalam.

Namun untuk kebutuhan internal koalisi di Jokowi, nama Gatot bisa saja menjadi jalan tengah bagi partai-partai pendukung Jokowi, khususnya yang merepresentasikan dari kelompok Islam, yang bisa saja mencuat untuk mendorong kader atau ketua umumnya mendampingi Jokowi. Seperti nama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar secara lamat-lamat juga dipersiapkan untuk maju dalam kontestasi Pemilu 2019 mendatang. Jika pilihan Jokowi terhadap figur dari partai koalisi, resistensi atas kekompakan koalisi akan terbuka lebar.

Situasi ini mirip yang terjadi saat Pilpres 2009 lalu, saat SBY memutuskan nama Boediono yang tidak merepresentasikan kekuatan politik dari partai koalisi. Padahal saat itu, sejumlah partai koalisi berlomba-lomba menawarkan kandidatnya mendampingi SBY. Seperti nama Hatta Rajasa sempat mencuat dinominasikan mendampingi SBY. Meski dalam kenyataannya, SBY memilih bekas Gubernur BI Boediono untuk mendampinginya dalam Pilpres 2009 lalu.

Sejarah seolah kembali terulang. Pemilu 2019 mendatang akan menjadi momen krusial bagi kaolisi Jokowi khususnya dalam menentukan siapa pendampingi Jokowi. Pertimbangan kandidat yang merepresentasikan kekuatan kelompok Islam tampaknya menjadi penting bagi koalisi Jokowi untuk memilih Cawapres Jokowi. Meski, faktor PDI Perjuangan termasuk Partai Golkar sebagai partai pemegang saham terbesar dalam koalisi ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam penentuan siapa pendamping Jokowi.

Akhirnya, nama Gatot yang mencuat belakangan ini tak lebih hanyalah kembang demokrasi yang belum jelas masa depan politiknya. Apalagi, mood publik mudah cepat berubah. Sebagai tokoh alternatif dalam Pilpres 2019 mendatang, nama Gatot menemukan konteksnya. Meski semua kembali kepada pilihan partai politik.

Komentar

 
x