Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 02:08 WIB

Yenny: Perempuan Bisa Jadi Kunci Perdamaian

Oleh : - | Senin, 9 Oktober 2017 | 10:50 WIB
Yenny: Perempuan Bisa Jadi Kunci Perdamaian
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dengan Presiden Joko Widodo - (Foto: inilahcom/Dok)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Wahid Foundation bersama Badan PBB untuk isu perempuan, UN Women, merayakan Hari Perdamaian Internasional di ponpes Annuqayah, desa Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, dihadiri Presiden Joko Widodo pada Minggu 8 Oktober 2017.

Presiden Jokowi dalam pidatonya meminta masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga perdamaian di Bumi Nusantara. "Banyak negara yang kepincut dengan perdamaian dan kerukunan yang berlangsung di Indonesia."

Indonesia memiliki suku yang cukup banyak, mencapai 714 suku, dibandingkan Malaysia yang hanya 3 suku, Indonesia memiliki berbagai suku, berbeda agama, budaya dan berbeda bahasa.

"Maka, perlu hati-hati dalam menyikapi dan jangan sampai ada gesekan apalagi konflik," kata Presiden di kompleks pesantren tertua di Sumenep itu.

An Nuqqoyah adalah salah satu tiang penyangga masyarakat Madura dan Jawa Timur dan pengaruhnya luas melampaui pulau Jawa.

Beraneka ragam suku bahasa agama ras itu merupakan takdir yang harus dijaga. Sekecil apapun yang bisa menyebabkan perpecahan harus segera diatasi dan dihindari. Jokowi meminta warga Madura menjaga persaudaraan, menjaga ukhuwah Islamiyah, menjaga ukhuwah Basyariah dan Ukhuwah Wathaniyah. Tetap menjaga perdamaian. Wanita juga bisa menjadi kunci perdamaian

Pada kesempatan yang sama, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menyampaikan aoresiasinya terhadap perempuan yang ada di Madura.

"Acara hari ini adalah kolaborasi antara UN Women dan Wahid Foundation dengan dukungan khusus dari pemerintah Jepang," ujarnya dalam rilis, Senin (9/102/2017).

UN Women adalah lembaga PBB yang mendapat mandat untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan di dunia.

Ketika UN Women menghubungi untuk membuat kegiatan perayaan hari perdamaian dunia yang melibatkan kelompok perempuan di masyarakat, Wahid Foundation langsung berpikir bahwa Madura adalah daerah yang paling pas, karena perempuan Madura dikenal sebagai pribadi yang ulet dan pekerja keras, serta religius dan senang bergotong royong.

Berangkat dari rasa bangga itulah maka Wahid Foundation berinisiatif untuk membuat Gerakan Perempuan Untuk Perdamaian. Karena maqolah ulama menyebutkan An nisa imadul bilad, idzasholuhat sholuhal bilad
(Perempuan itu tiang negara. Kalau perempuannya baik maka negaranya juga akan baik).

Selama ini para kyai telah berjuang di garda terdepan untuk menciptakan ketentraman dan kedamaian di bumi nusantara. Tentu di belakangnya terdapat peran ibu Nyai yang luar biasa dan turut serta dalam perjuangan tersebut.

"Program yang kami gagas bersama UN Women, berbentuk program penguatan ekonomi keluarga, dimana perempuan akan dibantu untuk meningkatkan kemampuannya dalam mencari tambahan nafkah keluarga. Mereka bisa tetap tinggal di rumah untuk mengasuh anaknya, sambil membuat usaha kecil untuk membantu pendapatan keluarganya," kata Yenny.

Di sisi lain para perempuan tersebut juga akan dibekali dengan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai perdamaian di lingkungannya masing-masing sehingga tidak mudah terpancing oleh provokasi yang ingin menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat.

"Dalam program ini kami juga melibatkan banyak kyai, Gus dan Lora, untuk membantu membangun pemahaman kaum perempuan terutama tentang nilai Pancasila," ucap Yenny.

Para kyai adalah orang yang paling tepat untuk bicara soal Pancasila, karena para kyai sangat menyadari bahwa Pancasila adalah mitsaqon Gholidhoh, perjanjian suci yang mengikat seluruh bangsa Indonesia, yang telah direstui oleh para ulama pendahulu kita.

"Saya berharap para Lora dan Gus dari AnNuqoyah bersama para bu Nyai, nantinya bisa menjadi pelopor-pelopor perdamaian di Madura dan Indonesia," kata Yenny. [rok]

Komentar

 
Embed Widget

x