Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:35 WIB

Generasi Milenial Harus Kawal Pemilu

Oleh : - | Jumat, 29 September 2017 | 09:59 WIB
Generasi Milenial Harus Kawal Pemilu
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Medan - Politikus dari PDI Perjuangan menilai generasi milenial adalah individu yang kreatif. Generasi tersebut banyak berkecimpung menjadi seniman, pegiat media sosial, bahkan aktivits.

Effendi MS Simbolon sebagai doktor ilmu politik yang sudah mumpuni berkecimpung di dunia politik nasional berpandangan, generasi milenial itu juga harus peka akan kondisi politik kekinian. Tujuannya sebagai kontrol dan mengkritisi apa yang terjadi di negara ini.

"Bagi anak muda, terkadang mereka enggan untuk terjun ke sistem. Beberapa diantaranya beranggapan bahwa politik itu urusan orangtua. Padahal, peran generasi muda di dalamnya sangatlah bernilai. Kritikan dan saran dari generasi muda itu diperlukan untuk perubahan bangsa," katanya kepada wartawan, Jumat (29/9/2017).

Menurutnya, salah satu upaya agar generasi muda ikut berpartisipasi berpolitik adalah dengan membaca dan mendalami sejarah. Caranya, saat ini teknologi sudah mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai informasi soal politik dan sejarah juga bisa diperoleh dari sana.

Effendi Simbolon mengatakan generasi muda milenial (generasi baru ) dapat berperan lebih aktif dalam politik praktis di Indonesia. "Dengan penguasaan IT dan sistem komunikasi terkini, kita sangat optimis akan dapat mewujudkan cita- cita bangsa dan negara khusus sistem tata nilai berdemokrasi di Indonesia," ucapnya.

Selain itu, pemahaman politik sejak dini juga harus diperkenalkan. Seperti membuat talk show, seminar yang menghadirkan aktivis muda. Ini bisa dilakukan oleh mahasiswa dan sejumlah organisasi kepemudaan.

Effendi Simbolon yang juga ketua Umum PSBI itu menilai cara berpikir generasi milenial saat ini lebih luas ketimbang anak muda di masa lalu. Katanya, generasi milenial dapat berperan besar untuk membangun bangsa. "Anak-anak muda ini bisa mengawal pemilu yang nantinya digelar serentak di Indonesia," ucapnya.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Muryanto Amin berpendapat bahwa baik buruknya politik itu ditentukan oleh pemilih muda. Ia mengatakan, kalau pemilih muda saja tidak mau turut serta dalam berpolitik maka akan banyak persoalan nantinya terhadap proses demokrasi.
"Namun untuk masuk ke sistem, politik itu tidak bisa instan. Jadi ga bisa cepat, butuh proses," katanya yang juga sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP).

Ia menyebutkan, di Indonesia 40% dari jumlah penduduk adalah pemilih muda. Untuk menarik perhatian pemilih muda, maka ada yang harus dilakukan pemerintah pada partai politik.

Katanya, parpol mesti melakukan pendidikan politik untuk generssi muda. Menurutnya, program pendidikan yang dimaksud seperti menemui sejumlah organisasi, melakukan diskusi, memberikan pemahaman tentang pentingnya partisipasi politik, membuat kebijakan publik dengan memberikan pengalaman dan langsung mengerjakannya.

"Parpol, politikus juga harus memberikan contoh baik kepada generasi muda. Misal, dengan tidak melakukan korupsi, tidak berbuat curang. Kalau itu tidak dilakukan, maka generasi mudapun malas masuk ke politik," jelasnya.

Begitu juga pemerintah yang bisa menggandeng sekolah-sekolah dan memberikan politik sejak dini kepada pelajar. Dengan demikian, diharapakan generasi muda itu mau turut serta berpolitik.

Di Sumut, jumlah penduduk menurut kelompok usia dan jenis kelamin pada 2015 dengan rentang usia 15-40 tahun tercatat, usia 15-19 tahun sebanyak 103,87 jiwa, usia 20-24 tahun 101,6 jiwa, usia 25-29 tahun 100,51 jiwa, usia 30-34 sebanyak 98,67 jiwa, usia 35-39 sebanyak 98,29 jiwa. Sementara jumlah penduduk di Sumut sebanyak 13.937.797 jiwa. [rok]

Komentar

 
x