Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 September 2017 | 23:22 WIB

Kompleksitas Masalah di Insiden Bayi Debora

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 11 September 2017 | 14:25 WIB
Kompleksitas Masalah di Insiden Bayi Debora
Jenazah Bayi Tiara Debora Simanjorang - (Foto: Riset)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kasus yang menimpa bayi Tiara Debora Simanjorang telah mengharu biru publik. Drama perjuangan orang tua Debora dalam mendapatkan akses layanan kesehatan membuka sisi lain dari komitmen negara dalam layanan kesehatan warganya. Kasus Debora terjadi di Ibukota Indonesia, Jakarta, bukan di pelosok kampung jauh dari pusat pemerintahan.

Peristiwa yang menimpa bayi Debora harus dijadikan momentum pembenahan dalam tata kelola rumah sakit dan pelayanan kesehatan buat masyarakat. Karena masalah serupa tidak hanya terjadi pada Debora, cerita serupa juga terjadi di banyak tempat.

Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati mengatakan penegakan hukum harus dilakukan terhadap rumah sakit bila memang secara terang melanggar UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam ketentuan di UU tersebut secara tegas disebutkan soal kewajiban rumah sakit untuk melayani pasien untuk penyelamatan jiwa.

"Saya meminta pihak-pihak terkait untuk melakukan klarifikasi terkait persoalan tersebut. Bila memang RS terbukti melanggar ketentuan di UU Kesehatan, hukum harus ditegakkan dan tidak segan-segan untuk memberi sanksi kepada Rumah Sakit," ketus Okky di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Menurut Okky, regulasi dan sistem jaminan kesehatan nasional (SJKN) termasuk Kartu Indonesia Sehat (KIS) nyatanya masih menyisakan masalah dalam pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat. Ia menilai, persoalan tersebut selain terletak pada pelaksanaan aturan yang tidak dilakukan oleh rumah sakit, juga karena ketersediaan regulasi dari sisi pemerintah yang tak kunjung diterbitkan.

"Dalam catatan saya, pemerintah hingga saat ini masih menyisakan utang pembentukan Peraturan Pemerintah (PP) baik terkait UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan maupun UU 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit," ungkap Okky.

Menurut dia, keberadaan sejumlah peraturan pemerintah cukup penting untuk memastikan aturan yang terkandung di UU dapat terlaksana di lapangan. Menurut dia, kasus yang menimpa Debora, tidak bisa dimungkiri juga lantaran belum adanya aturan pelaksana yang lebih detil soal tata laksana pengelolaan rumah sakit.

"Saya meminta pemerintah untuk segera membuat PP terhadap kedua UU tersebut agar implementasi kedua regulasi di bidang kesehatan itu dapat lebih efektif pelaksanaan di lapangan," sebut Okky.

Selain itu, Okky juga mencermati keengganan rumah sakit swasta bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Kasus yang menimpa Debora, juga tidak bisa dilepaskan dari minimnya rumah sakit swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Padahal dari sisi alat kesehatan, rumah sakit swasta jauh lebih modern dalam penanganan kesehatan masyarakat.

"Ada baiknya pemerintah membuat rumusan insentif kepada RS Swasta agar sebaran RS Swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan makin banyak. Belajar dari peristiwa Bayi Debora, pemerintah harus membuat terobosan agar masyarakat dapat akses kesehatan dengan cepat, tepat dan mudah," tandas peragawati senior ini.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta rencananya pada Senin (11/9/2017) bakal memanggil manajemen RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat untuk mengklarifikasi persoalan yang telah menjadi perbincangan khalayak tersebut.

Sementara melalui laman resminya, RS Mitra Keluarga mengklarifikasi tentang berita yang beredar ihwal meninggalnya bayi Debora. Dalam klarifikasi yang berjumlah lima poin tersebut pihak RS menyebutkan kondisi bayi Debora memiliki riwayat lahir prematur, penyakit jantung bawaan serta dalam kondisi gizi buruk.

Disebutkan juga pihak rumah sakit secara aktif menghubungi sejumlah RS yang bermitra dengan BPJS. Upaya tersebut dilakukan terkait ketersediaan ruang khusus ICU lantaran orang tua bayi keberatan dengan biaya di RS Mitra Keluarga. Pihak keluarga setuju untuk mendapat rujukan dari dokter.

Pada pukul 09.15, keluarga telah mendapatkan rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Dokter rumah sakit terebut menghubungi dokter Mitra Keluarga Kalideres untuk menanyakan kondisi Deborah. Namun di saat bersamaan, perawat yang menjaga pasien menginformasikan kondisi Deborah yang memburuk .

"Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien," demikian klarifikasi RS Mitra Keluarga dalam laman resminya.

 
x