Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:37 WIB

MA Klaim Informasi Hakim Bengkulu dari Internal

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 8 September 2017 | 14:43 WIB
MA Klaim Informasi Hakim Bengkulu dari Internal
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mahkamah Agung (MA) mengklaim keberhasilan tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menciduk hakim pada Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu Dewi Suryana ada campur tangan pihaknya.

"Bahwa terjadinya OTT (Hakim) di (PN) Bengkulu itu informasinya dari internal MA sendiri. Kemudian disampaikan kepada KPK agar dapat dilakukan tindakan," kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Abdullah di kantornya, Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Dia tidak merinci siapa pihak internal MA yang memberikan informasi kepada KPK. Yang pasti, terbongkarnya kasus itu berkat adanya kerjasama antara MA dan KPK.

Pola kerja sama ini tidak hanya sebatas penandatanganan MoU. KPK sudah mendidik aparatur MA untuk memiliki keahlian tertentu dalam melakukan pengawasan.

"OTT ini juga salah satu hasilnya, ada berbagai pihak yang memberikan pernyataan bahwa masih adanya OTT menunjukkan pola pembinaan dan pengawasan tidak jalan, pernyataan seacam ini tidak benar," kata dia.

Menurut dia, pihak tidak mengambil tindakan kepada hakim yang diduga menerima suap lantaran sudak masuk ke ranah hukum. Untuk itu, pihaknya berkoordinasi dengan KPK untuk melakukan upaya penangkapan.

"Kenapa MA tidak melakukan tindakan sendiri karena perbuatannya ini sudah masuk ranah melanggar hukum, sehingga yang berwenang adalah KPK atau aparat penegak hukum lain," ujar dia.

Dalam OTT di Bengkulu, penyidik KPK resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka adalah, Hakim PN Tipikor Bengkulu Dewi Suryana, Panitera Pengganti PN Tipikor Bengkulu Hendra Kurniawan dan salah satu pihak swasta yakni Syahdatul Islami.

Mereka diduga terlibat kasus dugaan suap terkait penanganan perkara dugaan korupsi di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Bengkulu. Suryana dan Hendra diduga kuat telah menerima suap sebesar Rp125 juta dari Syuhadatul agar vonis Wilson ringan. [rok]

Komentar

 
x