Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 19:11 WIB

September, Warga Diimbau Tetap Waspadai Karhutla

Oleh : - | Rabu, 6 September 2017 | 20:46 WIB
September, Warga Diimbau Tetap Waspadai Karhutla
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan, curah hujan di Indonesia pada September masih pada kisaran rendah sampai menengah (0-300mm/bulan) di beberapa wilayah di Tanah Air. Kondisi ini dapat memicu potensi ancaman terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Khususnya di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Pulau Buru, Provinsi Maluku, serta sekiar Merauke Selatan, Provinsi Papua. Karena itu, wilayah-wilayah tersebut perlu diwaspadai, karena kondisi ini dapat memicu potensi ancaman Karhutla.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Raffles B Panjaitan, mengungkapkan, sebagian besar penyebab terjadinya kebakaran lahan/hutan bukanlah kondisi cuaca, melainkan adanya faktor manusia yang melakukan pembakaran.

"Berbagai tindakan pencegahan karhutla dilakukan oleh KLHK, bersama pihak terkait agar kejadian seperti musibah kabut asap beberapa tahun silam tidak terulang kembali. Salah satu upaya yang intensif dilakukan oleh Manggala Agni dengan terus melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat," ujar Raffles, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/9/2017).

"Kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi Karhutla sangat penting, disamping pengawasan dan koordinasi untuk mencegah meluasnya penyebaran api. Melalui anggota Manggala Agni, kami selalu menghimbau dan memberi pengertian terkait larangan membakar lahan, sehingga pencegahan karhutla bisa berjalan efektif," Raffles menambahkan.

Sementara itu pada Selasa (5/9/2017), Brigade Dalkarhutla KLHK- Manggala Agni Daops Tinanggea melakukan upaya penanggulangan kebakaran di salah satu kawasan perkebunan ubi di Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Pemadaman dilakukan pada pukul 14.31 WITA bersama Polsek Tinanggea dan dibantu masyarakat setempat.

Kebakaran sempat menyebar ke areal perkebunan warga karena angin yang bertiup cukup kencang, cuaca yang panas dan vegetasi terbakar berupa alang-alang yang sangat mudah terbakar. Setelah dilakukan pemadaman sekitar 2 jam, kebakaran di 2 titik seluas kurang lebih 6,66 ha itu akhirnya dapat dipadamkan.

"Ancaman kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi di mana saja, tidak hanya di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Apalagi disaat cuaca yang masih kering, sangat berpengaruh terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di seluruh wilayah Indonesia", tandas Raffles.

Hasil pemantauan Posko Pengendalian Karhutla, 5 September 2017 pukul 20.00 WIB pada Satelit NOAA19, terpantau 10 dengan rincian Provinsi Bangka Belitung 5 titik (Kab. Belitung, Bangka Tengah, Bangka, Bangka Barat), Jawa Timur 3 titik (Kab. Sidoarjo, Banyuwangi, Situbondo), Sumatera Selatan 1 titik (Kabupaten Ogan Ilir), dan Kalimantan Timur 1 titik (Kab. Berau)

Berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) dan Satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level80% atau lebih menunjukkan jumlah hotspot yang sama sebanyak 29 titik dengan rincian 2 titik di Sumatera Selatan, 2 titik di Sulawesi Barat, 11 titik di Nusa Tenggara Timur, 1 titik di Nusa Tenggara Barat, 1 titik di Gorontalo, 1 titik di Kalimantan Timur, 6 titik di Sulawesi Selatan, dan 5 titik Sulawesi Tengah.

Sedangkan informasi hotspot berdasarkan Satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level 80% atau lebih, jumlah hotspot di Indonesia ada 29 titik dengan rincian 5 titik di Sulawesi Tengah, 2 titik si Sulawesi Barat, 11 titik di Nusa Tenggara Timur, 2 titik di Sumatera Selatan, 6 titik di Sulawesi Selatan, 1 titik di Kalimantan Utara, 1 titik Nusa Tenggara Barat, dan 1 titik di Gorontalo.

Dengan demikian, berdasarkan Satelit NOAA untuk periode 1 Januari hingga 5 September 2017 total hotspot 1.735 titik. Terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 684 titik (28,27%) jika dibandingkan periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 2.419 titik.

Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Confidence Level 80% periode tanggal 1 Januari 5 September 2017 terdapat 1.020 titik, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 3.101 titik, sehingga terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 2.081 titik (67,10%). [*]

 
x