Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 September 2017 | 19:41 WIB

Menkumham Usul Pengguna Medsos Gunakan ID Asli

Oleh : - | Senin, 4 September 2017 | 16:31 WIB
Menkumham Usul Pengguna Medsos Gunakan ID Asli
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Depok - Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan penggunaan media sosial seharusnya menggunakan akun yang benar-benar nama seseorang sesuai dengan identitasnya untuk menghindari penyebaran "hoax" atau berita bohong.

"'Hoax' harus diberantas. Sekarang ini kita dapat dengan mudah memperoleh hoax, untuk itu perlu penggunan medsos yang bertanggung jawab," kata Yasonna disela-sela Konferensi internasional bertajuk "1st ASEAN Symposium of Criminology" di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Depok, Jabar, Senin (4/9/2017).

Dia menyarankan provider FB, Twitter, Google untuk memperketat pembuatan akun, jika perlu pembuatan diharuskan dengan menggunakan nama asli beserta foto.

"Bisa juga barangkali menggunakan 'finger print' karena media sosial itu bisa di pakai untuk teororisme," ucapnya.

Bahkan katanya sebagai bentuk kontrol dibeberapa negara pengguna harus buka paspor.

Dia mengatakan saat ini jika ingin membuka laman harus jelas siapa pengelolanya agar bisa dipertanggungjawabkan.

"Identitas akunnya harus jelas orang nggak bisa sembarangan dan menggunakan akun abal-abal. Transparansi harus bertanggung jawab dan responsibilitiesnya harus jelas," ujarnya.

Ia mengatakan bangsa Indonesia sangat heterogen di mana level pendidikannya tidak sama. Satu telepon genggam bisa digunakan oleh profesor, anak SMP dan SMA.

Sekarang ini semua bisa mendapatkan "smartphone" dan bisa menggunakan media sosial. Namun mereka tidak tahu informasi yang dikirim itu benar atau tidak, karena level pemahaman tidak sama sehingga posting kemana-mana berita hoax.

Yasonna mengatakan provider juga harus jelas soal regulasinya untuk mendapatkan akun harus betul-betul jelas. Identitasnya jelas dan tidak bisa akun abal-abal lagi.

"Dibeberapa negara sangat ketat sekali. Jangan jadi provider hanya cari keuntungan saja," ucapnya.[tar]

Tags

 
x