Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 09:46 WIB

Saracen Disebut Terapkan Pola Indistri Hoax

Oleh : Happy Karundeng | Jumat, 1 September 2017 | 08:01 WIB
Saracen Disebut Terapkan Pola Indistri Hoax
Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe menilai jika diamati, pola yang dilakukan oleh kelompok penyebaran ujaran kebencian yang menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), Saracen adalah semacam industri.

"Kalau kita amati dari luar pola ini seperti sebuah industri kapital hoax. Ada semacam industri dan pemesan," katanya kepada INILAHCOM, Kamis (31/8/2017).

Ia menyatakan, cara mengamati pola Saracen juga dapat dilakukan lewat siapa yang jadi terget utama. Jika memang targetnya adalah pemerintahan atau tokoh tertentu, ini jelas beraroma politis.

"Cara melihat yang kedua adalah kepada siapa sasaran mereka. Bila kepala pemerintah atau tokoh yang berkuasa, bisa jadi ada motif politik sehingga dilakukan secara masif untuk menjatuhkan baik untuk perorang, kelompok maupun organisasi," ulasnya.

Sebelumnya PPATK menyatakan pihaknya dapat memberikan bantuan penelusuran pengguna jasa Saracen. Hal itu ditelusuri dari aliran uang. Meski demikian, bukan perkara mudah untuk menelusuri para konsumen tersebut. Pasalnya, PPATK kerap kesulitan untuk mengungkap apabila identitas pemilik tidak diketahui atau palsu.

Diketahui, Satuan Tugas (Satgas) Patroli Siber Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap tiga anggota kelompok Saracen. Jasriadi (32), Sri Rahayu (32), dan Faisal Tonong (43) ditangkap di tiga tempat berbeda.

Mereka diduga melakukan penyebar konten negatif yang menyinggung SARA serta ujaran kebencian. Saracen diduga memproduksi konten tersebut berdasarkan pesanan dengan tarif puluhan juta. [hpy]

Komentar

 
Embed Widget

x