Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 19:18 WIB

Ada Motif Politik di Balik Saracen?

Oleh : Happy Karundeng | Kamis, 31 Agustus 2017 | 05:04 WIB
Ada Motif Politik di Balik Saracen?
Ketua DPP Partai Hanura Benny Ramdhani
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua DPP Partai Hanura Benny Ramdhani menduga di balik motif mencari keuntungan oleh aktor-aktor di balik kasus penyebaran ujaran kebencian yang menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), Saracen, terselip motif-motif politis.

"Kalau mereka teroganisir dan punya keahlian kemudian jaringannya diduga melibatkan kelompoik intelektiual poltik, berati gerakan ini adalah gerakan yang sangat terorganisir. Bahwa mereka mengabil keuntungan ekoinomi itu ya, tapi dibalik keuntungan ekonomi karena jual jasa, ini juga motif politik, itu yang harus diwaspadai," katanya kepada INILAHCOM, Rabu (30/8/2017).

Ia menjelaskan, motif politik yang ada di balik Saracen adalah bertujuan untuk meruntuhkan kekuasaan Presiden Joko Widodo. Kalaupun peruntuhan ini tidak tercapai, tujuan lain merusak peluang Jokowi di Pilpres 2019 bisa jadi target.

"Diyakini hingga 1000 persen mereka tidak hanya motif ekonomi tapi motif politik. Mereka kan jual jasa, tapi bukan hanya motif itu tapi ada motif politik bagian dari perang asimetris yang targetnya menggulingkan kekuasaan. Kalau tidak jatuh yang bagaimana ini jadi bagian saboitase politik untuk maju Pilpres 2019," ulasnya.

Sebelumnya PPATK menyatakan pihaknya dapat memberikan bantuan penelusuran pengguna jasa Saracen. Hal itu ditelusuri dari aliran uang. Meski demikian, bukan perkara mudah untuk menelusuri para konsumen tersebut. Pasalnya, PPATK kerap kesulitan untuk mengungkap apabila identitas pemilik tidak diketahui atau palsu.

Diketahui, Satuan Tugas (Satgas) Patroli Siber Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap tiga anggota kelompok Saracen. Jasriadi (32), Sri Rahayu (32), dan Faisal Tonong (43) ditangkap di tiga tempat berbeda.

Mereka diduga melakukan penyebar konten negatif yang menyinggung SARA serta ujaran kebencian. Saracen diduga memproduksi konten tersebut berdasarkan pesanan dengan tarif puluhan juta. [hpy]

 
x