Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 16:03 WIB

Cak Imin Nilai Islam & Politik Mustahil Dipisahkan

Oleh : Ajat M Fajar | Rabu, 30 Agustus 2017 | 17:01 WIB
Cak Imin Nilai Islam & Politik Mustahil Dipisahkan
Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Semarang - Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan perdebatan klasik yang masih disinggung masyarakat adalah soal posisi Islam dan politik.

Menurut Pria yang akrab disapa Cak Imin, jika merunut jejak sejarah nusantara dan dunia, maka Islam dan politik tidak mungkin atau mustahil untuk dipisahkan.

"Sejak kelahirannya, gerakan Islam merupakan entitas yang menjadi bagian dari kekuasaan politik ataupun dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan yang telah ada. Kompromi, persuasi, koalisi, oposisi, konsensus bahkan perang, merupakan bagian integral dalam perkembangan Islam," kata Cak Imin dalam acara Stadium Generale dihadapan Civitas Academika Universitas Diponegoro di Kampus Undip Semarang, Rabu (30/8/2017).

Hadir dalam kesempatan itu, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, Dekan Fisip Undip, Dr Sunarto dan jajaran akademisi senior lainnya. Acara stadium Generale ini juga di dihadiri Menristekdikti Mohammad Nasir, Mendes PDTT Eko Sandjojo, Menaker Hanif Dhakiri, Menpora HM Imam Nahrawi dan sejumlah anggota Fraksi PKB DPR.

Cak Imin yang juga dikenal sebagai tokoh muda Islam itu menyampaikan pidatonya yang bertajuk 'Membumikan Pancasila dan Islam Rahmatan Lil Alamin Dalam Sistem dan Lanskap Politik Nasional dan Daerah'.

Cak Imin mengemukakan beberapa analisisnya terhadap sejumlah persoalan faktual yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, mulai dari kecenderungan mengerasnya pemahaman agama yang dangkal, problematika kemiskinan, persoalan ketidakadilan dan masalah-masalah lainnya.

"Islam politik jangan dimaknai sebagai hal yang negatif. Islam politik sama sekali tidak identik dengan fundamentalisme. Saya menawarkan Islam Rahmatan Lil Alamin sebagai konsep dan "ideologi" Islam politik, yang wajib diturunkan ke dalam program kerja konkret bagi siapapun yang meyakininya," katanya.

Menurut Cak Imin, ada dua hal yang prinsip dalam "ideologi" Islam Rahmatan Lil Alamin, yaitu kemanusiaan dan keadilan. Kemanusiaan, kata Cak Imin, bermakna sebagai rasa belas kasih dan solidaritas kepada siapapun yang membutuhkan.

"Apapun latar belakang agama, sosial budaya dan pandangan politiknya. Sementara keadilan bermakna penegakan hukum yang dilaksanakan dengan seadil-adilnya dan pemenuhan hak-hak mendasar rakyat sesuai
konstitusi," ujar Cak Imin.

Karena itu, Cak Imin meminta tak lagi didikotomikan antara Pancasila dan Islam serta Kebangsaan dengan Islam. Ada dua kata "adil" dan ada satu kata "kemanusiaan" dalam Pancasila.

"Hal ini sudah sejalan secara prinsipil dengan Rahmatan Lil Alamin. Orang-orang yang mendikotomikan Islam dengan Kebangsaan adalah kaum tuna sejarah. Mereka pura-pura lupa bahwa perjuangan kemerdekaan di
banyak negara Asia Afrika, bahkan negaranya sendiri, adalah kolaborasi solid antara cinta pada Islam dan cinta pada tanah air," kata Cak Imin.

Cak imin menegaskan bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita harus berpikir keras untuk menemukan jalan demi membumikan Pancasila.

"Saya punya resep sederhana. Pancasila dibumikan bukan dalam ruang hampa, namun dalam lingkup yang saat ini penuh problema. Maka, prasyarat dasarnya perlu terus diperbaiki agar upaya membumikan bisa efektif. Pertama, tegakkan hukum dan berikan keadilan. Kedua, penciptaan lapangan kerja dan pemenuhan hak dasar. Agar rakyat merasa terus punya harapan, harga diri dan pikiran positif. Ketiga, teladan dari para pemimpin. Jika tiga pra syarat dasar ini bisa kita penuhi, membumikan Pancasila menjadi kerja yang lebih sederhana dan lebih
mudah," katanya.[jat]

Komentar

 
x