Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:41 WIB

Kasus Korupsi Heli AW101 Dinilai Aneh

Oleh : - | Jumat, 18 Agustus 2017 | 23:00 WIB
Kasus Korupsi Heli AW101 Dinilai Aneh
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi mengatakan proses hukum kasus dugaan korupsi pembelian Helikopter Agusta Westland (AW) 101 terlalu dilokalisasi.

Menurut dia, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI seharusnya memeriksa dan mendalami pihak yang diduga terlibat dari instansi lain selain Angkatan Udara (AU).

"Anehnya, konstruksi kasus ini diarahkan insubordinasi sebagai bentuk ketidaktaataan pada perintah pimpinan karena tetap melanjutkan pengadaan helikopter meskipun presiden telah meminta dihentikan," kata Fahmi, Jumat (18/8/2017).

Ia menilai hampir tidak mungkin seorang tentara, apalagi perwira berani mempertaruhkan karier dengan membantah atau bertindak di luar perintah atasan. "Kecuali mungkin ada kongkalikong atau jaminan tertentu dari pihak yang jauh lebih berkuasa," ujarnya.

Ia curiga proses hukum dari kasus yang telah memunculkan sejumlah tersangka ini seperti ingin menyembunyikan keterlibatan pihak lain, yakni pihak yang memerintahkan tampaknya hendak cuci tangan.

"Dan yang mestinya menjalankan fungsi pengendalian dan pembinaan juga mwmbiarkan persoalan ini terjadi sejak awal," tambahnya.

Pusat Polisi Militer kembali menetapkan seorang tersangka dalam kasus pembelian Helikopter AW 101, yakni Marsekal Muda TNI SB yang pernah menjabat Asisten Perencana Kepala Staf Angkatan Udara.

Sebelumnya, POM TNI juga menetapkan empat perwira sebagai tersangka, yakni Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) TNI AU Kolonel Kal FTS SE, Marsma TNI FA, Letkol Adm TNI WW, serta Pembantu Letnan Dua (Pelda) SS.

Namun, menurut kuasa hukum salah satu tersangka, Santrawan Paparang, penetapan tersangka terlalu terburu-buru imbas belum adanya audit kerugian negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). [ton]

Komentar

 
x