Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 22 November 2017 | 14:28 WIB

Efek Euforia Pertemuan Mantan Presiden

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 18 Agustus 2017 | 15:17 WIB
Efek Euforia Pertemuan Mantan Presiden
Presiden Joko Widodo foto bersama sejumlah mantan presiden usai peringatan HUT 72 RI di Istana Negara - (Foto: Presidential)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Peringatan Hari Ulang Tahun 72 Republik Indonesia (RI) di Istana Negara pada Kamis (17/8/2017) menjadi momentum bertemunya mantan Presiden Republik Indonesia dalam satu forum. Tidak hanya itu, momentum tersebut juga menjadi momentum salaman kembali antara SBY dan Megawati, setelah empat tahun tak pernah jumpa.

Momentum foto bersama sejumlah mantan presiden dengan Presiden Joko Widodo usai peringatan HUT 72 RI di Istana Negara menjadi viral hampir di seluruh saluran media sosial di tanah air. Pertemuan langka tersebut mendapat apresiasi positif dari masyarakat Indonesia. Tidak sedikit yang menyebut pertemuan tersebut membawa kesejukan bagi bangsa Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut secara otomatis pertemuan para mantan presiden akan membawa kesejukan bagi bangsa Indonesia. Menurut JK, secara politik antarpemimpin memiliki perbedaan cara pandang. "Tetapi secara tujuan, ideology negara kita tetap satu," ujar JK ditemui di sela-sela peringatan hari konstitusi di gedung MPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat (18/8/2017).

Pendapat senada juga disampaikan Ketua MPR Zulkifli Hasan. Menurut dia, pertemuan yang dilakukan mantan presiden dan Presiden Jokowi memiliki dampak positif. Meski ia tidak menampik bila pandangan politik antarelit memiliki perbedaan satu dengan lainnya. "Meskipun berbeda pandangan dalam politik, namun soal merah putih satu," ucap Zulkifli.

Ketua Umum DPP PAN ini juga berharap agar pertemuan tersebut memberi efek positif bagi rakyat dan memberi dampak yang sejuk dalam kehidupan politik di tanah air. "Ini sinyal positif bagi rakyat," harap mantan Menteri Kehutanan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini.

Pertemuan para mantan Presiden dan Presiden Jokowi memang direspons gegap gempita oleh publik dan elit politik lainnya. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memberi sinyal positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping juga, momentum seperti yang terjadi di Istana Negara itu nyaris tak pernah terjadi dengan formasi lengkap para mantan presiden dalam satu forum bersama.

Meskipun, perlu digarisbawahi, berharap lebih dari pertemuan reunian mantan presiden tersebut juga tak sepenuhnya tepat. Pasalnya, pertemuan yang dibalut acara seremoni itu tak banyak memberi arti bila tidak ada pemahaman yang sama dalam merespons persoalan kebangsaan. Pertemuan tersebut hanya indah dipajang sebagai dokumentasi, tidak lebih.

Apalagi, para mantan presiden tersebut, kecuali BJ Habibie, saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Politik. Seperti Megawati Soekarnopurtri sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan dan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Dalam praktik politik, kedua partai itu memiliki pandangan yang berbeda.

Seperti saat SBY menjabat Presiden, secara konsisten partai pimpinan Megawati itu selama sepuluh tahun menjadi oposisi pemerintah. Begitu juga saat Jokowi menjadi Presiden sejak 2014, Partai Demokrat dengan dibalut sebagai partai penyeimbang kerap juga memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah.

Perbedaan pandangan dalam politik senantiasa tetap dirayakan agar publik mendapat pilihan-pilihan di samping juga sebagai instrumen kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Meski, perbedaan pandangan politik tidak menjadi penghalang hubungan antarpribadi. Itu pula penyebab mengapa reuni mantan presiden menjadi euforia, karena perbedaan politik antara SBY dan Megawati dilihat oleh publik menjadi penghalang hubungan antarpribadi parta tokoh tersebut.

Komentar

 
x