Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 14 Desember 2017 | 15:11 WIB

Bom dan Potasium Masih Marak di Teluk Saleh

Oleh : - | Minggu, 13 Agustus 2017 | 20:46 WIB
Bom dan Potasium Masih Marak di Teluk Saleh
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Sumbawa - Bom dan Potasium masih digunakan oleh sejumlah kelompok nelayan. Penggunaan alat ini hingga mengganggu kelestarian Teluk Saleh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Demikian disampaikan oleh Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Sunu Merah, M. Amin HS di Dusun Terata Barat, Desa Labuhan Kuris, Kecamatan Lape, Sumbawa, Sabtu.

"Nelayan dusun kami sudah tidak ada yang motas (memakai potasium) atau bom saat mencari ikan. Tetapi masalahnya banyak nelayan dari tempat lain yang memakai alat itu dan merusak Teluk Saleh," kata Amin, Minggu (13/8/2017).

Menurut dia, meski sudah dilarang dalam peraturan perundang-undangan, menurut Amin, pelanggaran tetap terjadi karena pengawasan lemah.

"Masyarakat takut untuk melawan, karena kapal kami akan ditandai, dan nantinya mereka (nelayan pengebom atau potasium) bisa balas dendam saat kami melaut sendiri," keluh Amin.

Alhasil, nelayan akan memilih diam dan membiarkan pelaku menjalankan aksinya.

Senada dengan keluhan itu, Kepala Desa Labuhan Sangoro Syamsuddin (50) mengatakan bom dan potasium masih terus digunakan karena pemerintah belum mengatur tentang bahaya penggunaan kompresor sebagai alat selam nelayan.

"Yang jadi masalah itu kompresor. Semua alat tangkap ilegal seperti bom, potasium, juga panah (speargun) akan terus digunakan jika nelayan masih diperbolehkan pakai kompresor saat menyelam," kata Syamsuddin saat ditemui di rumahnya, Jumat.

"Idealnya nelayan memang harus pakai pancing atau jaring tradisional agar bibit ikan terus terjamin," tambahnya.

Syamsuddin menambahkan pihak desa sudah membawa masalah tersebut ke Dinas Perikanan kabupaten, tetapi pihak tersebut tidak dapat memberi solusi karena tidak punya dasar hukum kuat.

"Kompresor ini sudah banyak menelan korban. Bulan ini saja sekitar tiga orang warga desa kami meninggal, satu langsung tewas, sisanya sempat koma. Miris buat saya, ada satu anak masih kelas dua SMP (sekolah menengah pertama) yang meninggal karena menyelam terlalu lama," terang Syamsuddin.

Nelayan kompresor ini biasa bekerja malam hari dan mereka dapat bertahan tiga sampai lima jam di kedalaman puluhan meter.

Syamsuddin menjelaskan, pihaknya sudah mengadakan pertemuan rutin dengan warga agar mereka menghentikan pemakaian kompresor.

"Sebagian besar warga Labuhan Sangoro di daratan sudah sepakat untuk berhenti. Cuma satu kelompok masyarakat di Gili (Pulau) Tapang yang menolak imbauan kami," katanya. [tar]

Tags

Komentar

 
x