Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 19:18 WIB

Kasus Viktor Laiskodat

Elit Politik Jangan Mainkan Isu yang Provokatif

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 06:05 WIB
Elit Politik Jangan Mainkan Isu yang Provokatif
Direktur SPIN (Survei dan Polling Indonesia), Igor Dirgantara - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur SPIN (Survei dan Polling Indonesia), Igor Dirgantara meminta kepada elit politik untuk menghindari isu yang berbau provokatif menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Sebab, pidato Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Viktor Bungtilu Laiskodat menjadi bumerang bagi partai dan dirinya sendiri.

"Memainkan isu politik hal yang lumrah, tapi tidak perlu provokatif anmenimbulkan kegaduhan," kata Igor kepada INILAHCOM, Jumat (11/8/2017).

Menurut dia, untuk apa politisi melakukan verbal attack yang mengandung permusuhan seperti itu jika berakibat merugikan diri sendiri atau bumerang bagi partainya. Faktanya, publik sudah tidak mudah dipengaruhi oleh aneka jargon sarkasme yang ditumpahruahkan para politisi tersebut. "Jawabannya variatif," ujarnya.

Sebut saja misalnya dari mulai sekedar mencari popularitas sampai terkait panasnya kontestasi dan kompetisi jelang Pilkada 2018 serta Pilpres 2019, tetapi seyogyanya mereka bisa memberikan pendidikan politik yang baik dalam melakukan komunikasi politik kepada masyarakat.

"Terutama dalam masalah kebangsaan kita, Pancasila plus plus (toleransi dan keberagaman). Jangan anggap satu kelompok mutlak melegitimasikan merekalah pendukung Pancasila plus plus, lalu berpendapat bahwa yang lainnya hanyalah penghianat seperti kurawa. Begitu juga sebaliknya," jelas dia.

Ia melihat dengan apa yang disampaikan oleh Viktor Laiskodat dengan menuding empat partai politik mendukung kelompok radikal dan ekstrimis yakni Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN dan PKS membuat keempat partai ini akan bersatu di ajang pemilu mendatang.

"Apakah parpol yang disebut Viktor akan bersatu, saya rasa 'maybe yes, maybe no'. Masih sangat tergantung dari putusan MK terkait ambang batas presiden di Pemilu 2019," katanya.

Karena, kata dia, sumbernya ada di kepentingan yang abadi. Bersatu sebagai kawan untuk satu isu kepentingan yang sama, kemudian menjadi musuh untuk satu isu lain yang berbeda.

"Demokrasi dan kepentingan ibarat pinang dibelah dua. Ideologi sebagai tembok pembatas cenderung kabur. Lain dulu, lain sekarang, lain juga koalisinya - apalagi kelak rezim berganti," tandasnya.

Untuk diketahui, beredar di media sosial orasi Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Bungtilu Laiskodat yang mengatakan ada sebagian kelompok yang ingin membuat negara khilafah. Celakanya, partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga.

Yang dukung supaya kelompok ekstrimis ini tumbuh berkembang di NTT partai nomor satu Gerindra, kedua Demrokrat, PKS dan PAN. Situasi nasional partai ini mendukung kaum intoleran.[ris]

 
x