Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 12:55 WIB

Kasus Viktor Laiskodat

Elit Politik Dinilai Sering Merusak Toleransi

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Jumat, 11 Agustus 2017 | 08:02 WIB
Elit Politik Dinilai Sering Merusak Toleransi
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai yang membuat keruh gaduh situasi keamanan dan ketertiban nasional adalah para elit-elit bukan masyarakat. Salah satunya pidato Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Viktor Bungtilu Laiskodat di NTT pada 1 Agustus 2017.

"Pertama yang merusak toleransi kita, yang merusak keberagaman kita itu bukan masyarakat. Jadi pada dasarnya masyarakat Indonesia itu toleransinya tinggi sekali, pemahaman Pancasila, pemahaman tentang keberagamannya itu tinggi sekali," kata Dahnil kepada INILAHCOM, Kamis (10/8/2017).

Menurut dia, yang bermasalah terhadap pemahaman Pancasila dan implementasinya itu justru para elit, kemudian yang korupsi melanggar korupsi itu elit tentu melanggar Pancasila, yang membiarkan kesenjangan itu melanggar Pancasila dan sebagainya.

"Makanya, lembaga yang dipimpin Yudi Latief yaitu Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UK Pancasila) itu orientasinya harusnya elit politik," ujarnya.

Maka dari itu, Dahnil menyarankan kepada elit politik untuk menghentikan propaganda politik dengan menggunakan Pancasiila. Karena, Pancasila itu harus diterapkan, dijewantahkan dalam perilaku dan etika politik.

"Jadi UK Pancasila yang diketuai Yudi Latief sasarannya justru elit, kalau masyarakat secara genetika itu sudah sangat toleran, sangat paham tentang keberagaman hidup sebagai bangsa dan bernegara. Jstru yang seringkali merusak toleransi itu adalah kelompok elit melalui politik yang rendah etika, menghalalkan segala cara," jelas dia.

Untuk diketahui, beredar di media sosial orasi Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Bungtilu Laiskodat yang mengatakan ada sebagian kelompok yang ingin membuat negara khilafah. Celakanya, partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga.

Yang dukung supaya kelompok ekstrimis ini tumbuh berkembang di NTT partai nomor satu Gerindra, kedua Demrokrat, PKS dan PAN. Situasi nasional partai ini mendukung kaum intoleran.[ris]

Komentar

 
x