Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 17 Agustus 2017 | 16:36 WIB

Efektivitas The Yudhoyono Institute Poles AHY

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 11 Agustus 2017 | 01:12 WIB
Efektivitas The Yudhoyono Institute Poles AHY
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - The Yudhoyono Institute, lembaga pemikir non partisan resmi dideklarasikan pada 10 Agustus 2017 atau bertepatan dengan ulang tahun ke-39 Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bagaimana efektivitas lembaga ini untuk poles AHY?

Tanda pagar #AHYForAll mulanya hanya muncul saat Pilkada DKI Jakarta beberapa bulan lalu. Pemilik tagar yang tak lain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bahkan sempat merajai survei politik lembaga independen. Di akhir 2016 atau dua bulan menjelang pelaksanaan Pilkada, hampir semua lembaga riset politik menempatkan AHY berada di urutan pertama pemilik elektabilitas tertinggi.

Kendati Pilkada telah usai dan Agus harus terpental di putaran pertama, tagar #AHYForAll itu masih saja menjadi simbol yang kerap dipakai Agus dalam berbagai kesempatan. Pasca-kekalahan Agus dalam pilakda DKI Jakarta banyak spekulasi yang muncul ke mana karir Agus. Sempat mencuat bila putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dipersiapkan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Namun, tepat di usia 39 tahun Agus, spekulasi soal kemana Agus berlabuh pasca Pilkada terjawab. The Yudhoyono Institute menjadi panggung baru bagi Agus. Ia juga menahkodai lembaga baru tersebut sebagai Direktur Eksekutif. Kendati menggunakan nama "Yudhoyono" untuk lembaga tersebut, diyakini lembaga ini menjadi panggung utama bagi AHY.

Agus mengaku pembentukan The Yudhoyono Institute merupakan hasil diskusi dengan Sang Ayah. Meski idenya telah lama muncul, namun baru terealisasi saat ini setelah gelaran Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. "Sebetulnya sudah beberapa saat lalu, cuma belum pernah terealisasi karena belum ada waktu dan sekarang saya sudah memiliki keluangan waktu setelah selesai Pilkada kemarin," ujar Agus di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (10/8/2017).

Menurut Juru Bicara The Yudhoyono Institute Ni Luh Putu Caosa, lembaga ini akan fokus pada tiga isu besar yakni soal kebebasan (liberty), kemakmuran (prosperity) dan keamanan (secuirty). Sejumlah kegiatan akan dirancang dari lembaga ini seperti sekolah kepemimpinan dan manajemen, diskusi dan seminar serta publikasi.

Kendati The Yudhoyono Institute tidak memiliki afiliasi politik dengan partai politik manapun, namun keberadaan lembaga ini tidak bisa dilepaskan dari sosok SBY termasuk Agus yang dalam Pilkada DKI lalu telah bertransformasi dari tentara menjadi politisi.

Apakah lembaga semacam The Yudhoyono Institute ini efektif untuk memoles AHY yang banyak disebut bakal dipersiapkan dalam momentum pemilu presiden? Untuk menjawab itu tergantung kiprah Agus bersama lembaga barunya itu. Apakah ia bisa memaksimalkan peran, posisi dan lembaganya untuk menunjukkan kiprah di depan publik.

Namun jika berkaca ke sejumlah lembaga serupa, rasanya sulit lembaga semacam think tank ini dapat mengerek sekaligus memoles figur Agus sebagai sosok yang dipersepsikan mampu mengelola sebuah organisasi dan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. Alih-alih dapat mengukuhkan Agus pada sosok "pemberi solusi" atas persoalan kebangsaan, Agus justru bisa terpenjara dalam "menara gading" lembaga ini.

Simak saja lembaga-lembaga serupa seperti Wahid Institute, Habibie Institute, Megawati Institute dan lembaga sejenis lainnya pamor lembaganya hanya terbatas pada isu yang tersegmentasi. Dari sisi cakupan perhatian publik terhadap lembaga-lembaga tersebut juga terbatas.

Bila disimak jejak para pengelola lembaga-lembaga tersebut nyaris tak memiliki pamor yang moncer di depan publik. Jika mengharapkan lembaga serupa sebagai panggung untuk memoles diri, rasanya pilihan tersebut salah tempat. Akan lain cerita bila Agus diberi kesempatan untuk mengelola Partai Demokrat.

Dialektika kebangsaan dan kenegaraan akan intens dicermati dan dikelola oleh Agus melalui partai politik dan alat-alat di bawahnya seperti fraksi di DPR dan kepala daerah yang berasal dari kader partai. Potensi diri seseorang akan lebih menonjol dan teruji dalam mengelola sebuah partai politik yang dinamis.

Namun, bila The Yudhoyono Institute dimaksudkan untuk mempersepsikan Agus sebagai sosok intelektual dan independen, upaya tersebut juga tak sepenuhnya efektif. Faktanya publik secara gamblang mengetahui entitas Agus saat ini berada di ruang politik.

Tanda Pagar #AHYForAll menjadi bukti otentik, Agus memang tengah dipersiapkan untuk meneruskan jejak Sang Ayahanda di jalur politik. Ini pula yang menjadi pembeda dengan pengelola lembaga serupa seperti Yenni Wahid melalui Wahid Institute yang tidak muncul jargon seperti #YenniForAll. [mdr]

 
x