Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 06:54 WIB

Mega: Lukisan Bisa Jadi Bahan Renungan

Oleh : Abdullah Mubarok | Kamis, 10 Agustus 2017 | 18:28 WIB
Mega: Lukisan Bisa Jadi Bahan Renungan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengatakan lukisan bisa menjadi bahan renungan agar generasi muda bisa melihat betapa kaya kebudayaan Indonesia di bidang seni lukis. Sehingga bangsa Indonesia bisa mengapresiasinya.

"Sekarang kadang kita lihat dari kolektor masa kini, juga pelukisnya yang hanya karena trend lalu main poles. Padahal sebenarnya dalam seni lukis dalam bahasa Jawa ada namanya "roso" (rasa). Itu sekarang tak ada lagi," ujarnya saat menyaksikan pameran lukisan Koleksi Istana Kepresidenan berjudul "Senandung Ibu Pertiwi" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Megawati mengatakan, kata-kata "roso" dalam bahasa Jawa sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan kalau ditanya secara pikiran sulit diterjemahkan karena "roso" dalam budaya itu bagian dari kehidupan peradaban.

"Saya lihat mentally jiwa, "roso bangsa" (rasa kebangsaan) kita berkurang. Saya tak bisa menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Bagaimana menjawab pertanyaa "piye rosomu?" (Bagaimana rasa kebangsaanmu?)," kata Megawati.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah lukisan Pantai Flores karya Basuki Abdullah. Karya ini dibuat berdasarkan lukisan cat air Presiden Sukarno saat dalam pengasingan.

Kemudian saat menyaksikan lukisan Harimau Minum, karya Raden Saleh, Megawati menanyakan kepada kurator: "Lukisan ini sudah pernah direstorasi? Sudah tua jadi memang harus dijaga baik-baik," ujar Megawati mengomentari lukisan tertua yang dipamerkan.

Kemudian, Megawati terlihat begitu cermat mendengarkan penjelasan dari kurator mengenai lukisan Keluarga Tani karya Kosnan. Lukisan yang menggambarkan keluarga sederhana khas Indonesia ini merupakan hadiah dari Gubernur Akademi Angkatan Laut, R.S Subijakto pada tahun 1962.

"Yang ini kondisinya masih bagus, ya," pujinya.

Selain lukisan karya anak bangsa, turut dipamerkan juga lukisan monumental Perkawinan Adat Rusia, yang merupakan satu dari dua karya pelukis terkenal abad 19, Konstantin Egorvick Makovsky yang berada di Istana Bogor. Lukisan ini hadiah rakyat Rusia melalui Pemimpin Umum Uni Republik-republik Sosialis Soviet, Nikita Khrushchev. Tetapi lukisan aslinya tidak dipamerkan karena berbagai alasan teknis dan keamanan lukisan mengingat ukurannya yang terlalu besar (295 x 450 cm). Lukisan tersebut sudah berusia lebih dari 125 tahun, sehingga kondisinya sangat rentan.

Kepala Kurator Asikin Hasan mengatakan, dalam pameran ini ditampilkan hasil karya tahun 1930-an hingga tahun 1960-an yang merupakan potret dari kondisi masyarakat di kala itu. Pameran digelar selama sebulan mulai 1 hingga 30 Agustus 2017.

Asikin menjelaskan bahwa yang dipamerkan ini adalah lukisan lama yang dikoleksi di Istana Cipanas, Istana Bogor, Istana Negara Jakarta, Istana Yogyakarta, dan Istana Tampaksiring, Bali.

"Masyarakat banyak yang petani dan nelayan dan tentunya ini menjadi sangat menarik karena sekarang kondisi masyarakat banyak berubah jauh," ujarnya.

"Lukisan juga menunjukkan tradisi. Misalnya kebaya yang sejak zaman Bung Karno sudah jadi identitas perempuan Indonesia. Mengukuhkan sebuah identitas bangsa," imbuhnya. [rok]

Tags

Komentar

 
x